Skip to main content

Tes psikiatri

Beberapa hari yang lalu saya membaca pengumuman bahwa saya lolos test psikiatri. Kejadiannya berawal dari beberapa bulan yang lalu, setelah berhasil melewati seleksi awal penerimaan calon pegawai di salah satu institusi pemerintah, saya dipanggil untuk mengikuti test psikiatri. Waduh, ini pengalaman pertama saya ikut test psikiatri.

Kayak apa sih test-nya? Selama ini test psikologi yang saya kenal adalah psikotest standard yang biasa diselenggarakan kalau kita melamar pekerjaan. Hiks, ,saya benci psikotest! Apalagi kalau sudah disuruh mengerjakan soal-soal dengan gambar kubus-kubus yang dibolak-balik. Mendingan saya disuruh ngitung soal-soal matematika sebanyak-banyak gambreng! Nah, ternyata test psikiatri jauh berbeda. Buat saya yang males mikir lama-lama, cenderung ngasal dan cuek (kata seorang sahabat, saya jago nembak soal-soal yang jawabannya saya nggak tahu - itu lho, rumus menghitung kancing, hahaha) test psikiatri jauh lebih menyenangkan. Tidak ada kubus-kubus imajiner, tidak ada mencari pola gambar tertentu, yang ada hanya menjawab ya atau tidak. Simple, isn’t it :) ? Dan katanya, dari jawaban-jawaban tersebut, bisa ketahuan kepribadian kita seperti apa. Hmm, orang psikologi memang jago ;) * Hi ‘Wi, jangan ge-er ya :p *

Sesi itu lalu dilanjutkan dengan wawancara oleh psikiater (Help me pls, saya selalu lupa apa bedanya psikolog dan psikiater). Bosan menunggu antrean yang mengular, mulailah kami masing-masing sibuk mencari teman mengobrol. Ah, di sudut sana ada dua orang yang sempat saya kenal di seleksi sebelumnya, daripada bengong, mending saya bergabung dengan mereka.

Mita : “Hai Bima, elo enak ya, udah interview. Gimana tadi?”
Bima : “Gw mah gak ditanyain macem-macem kok. Interviewernya ketawa melulu".
Ika : “Elo ngelawak melulu kaliii. Emang ditanya apa ?”
Bima : “Sudah punya pacar belum? Ehh, nanya lagi, cowok apa cewek? Ya gw jawab dong, alhamdullilah cewek Pak … “
Ika : “Iya, gw juga ditanyain sudah punya pacar belum. Waktu gw jawab sudah, ditanya kapan rencana menikah.”
Bima : “Gimana kalau kita jawab belum punya pacar ya? Mungkin kita disangka kelainan, pilih-pilih, dsb …”
Mita : [dalam hati doang sih] *Doengggg, merasa syokkk, tertohok mode on. Mending aku diem aja deh, hehehe *
Ika : “Tapi gw punya teman yang enjoy-enjoy aja tuh walaupun jomblo.”
Bima : “Iya sih, tapi kalau seumur kita belum punya pasangan, biasanya mah orangnya terlalu pilih-pilih. Elo dah punya cowok juga kan Mit ?”
Mita : [Innocent mode on] “Hehehe, belum … “
Bima : [tampang bersalah, sok-sok cool] “Tapi dah pernah kan ? Nggak masalah lah."

Hahaha, gara-gara percakapan itu, saya menunggu giliran interview dengan ketar-ketir, mosok sih saya akan dianggap orang aneh, geek, sakit jiwa, hanya gara-gara saya gak punya gandengan? Walaupun akal sehat saya mengatakan itu konyol, ternyata kok ya deg-deg-an juga. Untunglah, hasil test membuktikan, saya dianggap cukup waras, otherwise, terjadi marginalisasi terhadap kamu jomblo, hehehe. Begitu lah pengalaman pertama saya ikut test psikiatri. Kalau ada di antara kalian yang dapat kesempatan ikutan test psikiatri, I can only say, be yourself, gak peduli orang menganggap kamu waras atau nggak :)

Comments

Anonymous said…
Sy psikiater, lg gak bs tidur krn kebykan minum kopi jd lihat surfing. hehe lucu juga mengetahui tanggapan org awam ttg tes psikiatri yg biasa sy lakukan. Oh ya bedanya psikiater dan psikolog itu adlh, psikiater harus jd dokter dulu baru ambil spesialisasi Psikiatri. Sdgkan psikolog kan dari fakultas psikologi jd bkn dokter.
Unknown said…
Bsk senin ada test psikiatri dan saya juga blm ada gambaran spt apa..krn baru prtma x bsk... Kepikiran terus ...😁 cm pengen lolos aja hehe
Unknown said…
Halo Mba Mita. Boleh nanya ga, lulus tes psikiatrinya di instansi mana?

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...