Skip to main content

Sudah cukup

Sudah cukup, saya tidak mau bercengeng-cengeng lagi. Sahabat saya tertawa mendengarnya dan berkata, “Yakin Mit ? Bukannya sudah berkali-kali bilang begitu ?“ Hahaha, memang benar kata-katanya, sudah berkali-kali saya berkata seperti itu dan selalu saja gagal. Sekarang saya mencobanya sekali lagi ;)

Berat sekali waktu kemarin saya berkata “TIDAK” untuk sebuah permintaan kecilnya. Tetapi jika saya tidak melakukannya, selamanya dia akan menganggap bahwa saya selalu ada, taken for granted. Saya tidak bisa lagi selalu berkata “OK”, “YA”, untuk permintaannya, sementara ia sering berkata “TIDAK” kepada saya, bahkan di saat saya sangat memerlukan kehadirannya.

Dia selalu berkata bahwa dia tidak percaya pada pertemanan. Baginya pertemanan hanya merupakan manifestasi kebutuhan dan kepentingan dua orang individu. Ketika dua individu bertemu, kemudian ternyata mereka punya kesamaan kepentingan, dan mereka bisa saling melengkapi kebutuhan mereka, maka timbullah pertemanan, persahabatan, atau cinta. Dan ketika kedua kepentingan itu tak lagi sama, itu saatnya untuk berpisah. Dia mengatakan itu ketika kami bertemu lagi di Jakarta sebagai dua teman lama. Itu juga yang dia ungkapkan ketika dia pergi.

Betapa bodohnya saya mengira bahwa pertemanan kami sejak lama akan membuat segalanya menjadi lebih baik, meletakkan harapan saya ke dia, hanya karena kami pernah percaya kepada hal yang sama, punya idealisme-idealisme yang sama, sehingga saya mengira dia bisa mengerti saya lebih dari semua laki-laki lain yang pernah saya kenal dalam hidup saya.

Jadi, mungkin saya harus mulai mempercayai bahwa baginya semua tak lebih dari persamaan kepentingan dan manifestasi kebutuhan, dan sekarang kami tak lagi punya persamaan kepentingan. Perjalanan hidup saya sesaat membawa saya mengenal dirinya. Sejenak kami saling membutuhkan, tapi kami hanya bersilangan di satu persimpangan saja. Sekarang saya berkemas, melanjutkan perjalanan saya.

Saya menoleh sejenak pada laki-laki itu, ah, tidak, saya tidak akan lagi terbawa perasaan saya. Sesaat yang lalu memang saya sempat memutuskan untuk mengikuti kata hati, tapi angin telah berubah. Cepat-cepat saya berkemas, meninggalkan persimpangan itu, membelok ke arah yang tak pernah saya tempuh sebelumnya. Perjalanan saya masih panjang, lihat daftar saya : ada dokumentasi yang harus segera saya selesaikan, ada training yang menunggu Selasa besok, ada implementasi projek dan testing yang melelahkan, ada pengurusan visa, menunggu interview pekerjaan, lalu membuat keputusan go or no go. Sudah cukup penuh, tidak perlu menyelipkan tempat untuknya.

Oke, kata saya dalam hati. Tarik napas dalam, hembuskan, lalu mulailah berjalan dengan kepala tegak dan tersenyum, maka langkah saya pasti akan terasa lebih ringan. Satu … dua … tiga … :)

Comments

Anonymous said…
this is a good post :D. mungkin perlu consider buat jadi penulis juga, mit? he he he

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...