Oh well, seharusnya kemarin adalah pesta besar di keluarga saya. Sepupu saya menikah. Tanpa diduga gempa mengguncang Jogja.
Berita yang mengabarkan gempa di Jogja kemarin sore (pagi waktu setempat) membawa ingatan saya tentang kota itu. Dengan gemetar papa berbicara di telpon, menggambarkan besarnya guncangan gempa, genting yang berjatuhan dan tembok tetangga yang runtuh.
Lahir dan dibesarkan di sana, delapan belas tahun pertama saya habiskan di kota itu. Kota yang ramah dan bersahaja, sekaligus kota yang canggung di persimpangan jalan. Sebagian penduduknya masih sangat menghormati adat istiadat tradisional, membuat kota ini identik sebagai kota budaya yang antik. Namun kota ini pun tak luput dari perubahan jaman, benturan budaya lama dan baru.
Jogja dalam ingatan saya adalah terik matahari yang membakar, makanan murah meriah ala mahasiswa, kompleks candi yang tak jauh dari rumah, sepeda motor yang memadati jalan-jalannya, dan beranda favorit dengan halaman luas yang penuh pohon buah-buahan.
Beranda itu masih berdiri tegak, sayangnya candi-candi yang indah itu sebagian runtuh. Saya masih ingat betapa indahnya sore itu, ketika saya dan seorang sahabat bersepeda dari rumah saya ke Candi Prambanan, lalu menyusuri kompleks candi yang luas itu. *Susan, masih ingat gak?* Rasanya seperti masuk mesin waktu, dan keluar di masa silam. Sinar matahari sore itu sangat cantik, menambah keindahan Prambanan yang dengan anggun menjulang tinggi. Sayang, mungkin saya tak akan bisa menikmati keindahan yang sama dalam waktu dekat ini. Entah butuh berapa lama untuk merenovasi candi yang cantik itu.
Walaupun tak pernah terbersit dalam benak saya untuk kembali menetap di kota itu, Jogja selalu menjadi rumah bagi saya. Duka cita saya untuk Jogja, dan semua orang tercinta.
For my lovely cousin ... I am so sorry for you, you should have been a beautiful bride in a beautiful wedding today. Well, at least you still be a bride, rite ;) ?
In memoriam untuk Mbah Har. Saya tidak menduga, beliau akan pergi secepat ini dengan cara yang tragis. Selamat jalan Mbah ...
Berita yang mengabarkan gempa di Jogja kemarin sore (pagi waktu setempat) membawa ingatan saya tentang kota itu. Dengan gemetar papa berbicara di telpon, menggambarkan besarnya guncangan gempa, genting yang berjatuhan dan tembok tetangga yang runtuh.
Lahir dan dibesarkan di sana, delapan belas tahun pertama saya habiskan di kota itu. Kota yang ramah dan bersahaja, sekaligus kota yang canggung di persimpangan jalan. Sebagian penduduknya masih sangat menghormati adat istiadat tradisional, membuat kota ini identik sebagai kota budaya yang antik. Namun kota ini pun tak luput dari perubahan jaman, benturan budaya lama dan baru.
Jogja dalam ingatan saya adalah terik matahari yang membakar, makanan murah meriah ala mahasiswa, kompleks candi yang tak jauh dari rumah, sepeda motor yang memadati jalan-jalannya, dan beranda favorit dengan halaman luas yang penuh pohon buah-buahan.
Beranda itu masih berdiri tegak, sayangnya candi-candi yang indah itu sebagian runtuh. Saya masih ingat betapa indahnya sore itu, ketika saya dan seorang sahabat bersepeda dari rumah saya ke Candi Prambanan, lalu menyusuri kompleks candi yang luas itu. *Susan, masih ingat gak?* Rasanya seperti masuk mesin waktu, dan keluar di masa silam. Sinar matahari sore itu sangat cantik, menambah keindahan Prambanan yang dengan anggun menjulang tinggi. Sayang, mungkin saya tak akan bisa menikmati keindahan yang sama dalam waktu dekat ini. Entah butuh berapa lama untuk merenovasi candi yang cantik itu.
Walaupun tak pernah terbersit dalam benak saya untuk kembali menetap di kota itu, Jogja selalu menjadi rumah bagi saya. Duka cita saya untuk Jogja, dan semua orang tercinta.
For my lovely cousin ... I am so sorry for you, you should have been a beautiful bride in a beautiful wedding today. Well, at least you still be a bride, rite ;) ?
In memoriam untuk Mbah Har. Saya tidak menduga, beliau akan pergi secepat ini dengan cara yang tragis. Selamat jalan Mbah ...
Comments
The fact make me realize that God have own way to show something to every people especially me.
Facing the future is the more complicated way to pass on instead of complaining the event done.