Skip to main content

Cisantana

Baru pulang dari Cisantana (Cigugur, Kuningan, deket Cirebon). Jadi ceritanya, beberapa minggu yang lalu, ada ajakan dari temen2 lingkungan Gereja (ciee, sok rajin di lingkungan Gereja nih, padahal muncul aja gak pernah :p) buat ziarah ke Gua Maria Cisantana. Pikir punya pikir ... hmm, kenapa nggak ... toh aku belum pernah ke sana (ketinggalan banget deh kayaknya, dulu anak2 KMK dah pernah kesana, dan aku gak ikut :)). Maka berangkatlah aku bareng Lusi dan Vero, sahabat2 SMA ku itu lho.

Alasan lain aku ikut ziarah itu ... sttt ...muraaah, cuma 120 ribu saja! Berangkat Sabtu pagi dini hari, dan baru pulang ke Jakarta minggu sore tadi. Bandingkan kalo aku weekend di Jakarta, duit segitu kayaknya amblas juga deh. Mending aku ke Cisantana kan, karuan jauhnya, bisa berdoa pula, hahaha !!! Gile, mau doa aja ngitung2 untung rugi gitu .. hohoho :)) Entah apa yang korslet di otakku, yang jelas dua hari ini aku itung2an untung rugi banget, sampai2 Lusi dan Vero geleng2 kepala karena aku jadi peliiit banget :p ...

Sabtu, dini hari

Kami berangkat dari Setiabudi jam 12.30 malam, kumpul di 2 rumah di sebelahku, yang anak cowoknya ganteng ituuu ;) hahaha. Ternyata waktu ke sana kosong melompong, yah, ditinggal deh, jadi harus nyusul ke polsek, karena mereka nunggu di situ. Jauh dong jalannya. Kemudian semua berkumpul, cuma 1 bis, sekitar 30 orang. Rata2 yang ikut bapak2 dan ibu2, lalu ada beberapa ce cantik, seperti kami bertiga misalnya ;) Menyesal, co ganteng itu gak ikut :)) hehehe ... emang kalo ikut juga napa ... gak ngaruuuhhh :)) !!!

Sabtu pagi ...

5.00 pagi ... Bangun karena leher pegel2 dan AC nya dingin banget. Lalu ibu2 itu mulai menawarkan makanan2 untuk pengganjal perut. Beginilah nikmatnya kalau pergi bareng ibu2, terjamin :p! Sekitar jam 6, kami masuk Cirebon. Jalan mulai macet karena pasar kaget yang terkenal di sepanjang pantura itu. Ada pasar kaget yang isinya bajuuu melulu.

Terus mulai deh ibu2 itu bernyanyi2 (dalam arti sebenarnya). Aduuh, rajin sekali mereka. Sementara kami yang muda2 masih ngantuk2 dan milih untuk terus tidur, tapi gak bisa, karena mereka mulai ngajak kami buat nyanyi2, mulai dari lagu gereja sampai lagu pop tempo doeloe ... pokoke mah nyanyi lah :))! Terus salah seorang panitia membacakan sejarah gua maria tersebut. Kenapa ada gua maria di situ ... etc, etc. Tapi pada dasarnya aku masih ngantuk bangettt ... jadi lah cerita itu pengantar tidur ku ... hehehe ...

Tapi singkat cerita, menurut Lusi yang masih sempat mendengar sejarahnya (sebelum akhirnya juga jatuh tertidur) ... Gua Maria tersebut selain dikenal sebagai Gua Maria Cisantana, juga dikenal sebagai Gua Maria Sawer Rahmat dan Gua Maria Totombok, karena terletak di Bukit Totombok. Totombok artinya merugi, karena bukit tersebut tandus banget, sehingga gak pernah menghasilkan kalau ditanami hasil bumi.

Mungkin kalian yang bukan katolik gak pernah tau ya, kalau di Bumi Pasundan ada daerah yang komunitas Katoliknya cukup mayoritas dan mengakar di sana. Setau kita, pastilah tanah Sunda itu tanahnya orang muslim. Beberapa puluh tahun yll (gak tau tepatnya), penduduk daerah Cisantana masih menganut kepercayaan tradisional, yaitu Agama Jawa Sunda. Kemudian salah satu pemuka adat agama tersebut, seorang Pangeran, dibaptis jadi Katolik. Karena dia dibaptis, maka pengikutnya pun banyak yang ikut dibaptis. Lagi2 menurut Lusi (aku ketiduran :)) ... ada 1700 an orang pengikutnya yang dibaptis waktu itu. Sebagai tanda syukur, maka dibuatlah Gua Maria tersebut.

Akhirnya kami sampai juga di daerah Cigugur. Daerahnya pelosok benerrr ... jalanan sih bagus, aspal, tapi bener2 berkelok2 dan naik ke atas perbukitan. Pelosok, masih asli, damai. Pokoke mah bener2 ndeso ... Oh ya, ini kampung halamannya si Uday, temen KMK ku. Sesampainya di sana, kami langsung ke Susteran, yang bakal jadi tempat nginep. Brrr, dingin banget dehhh !!! Jadi inget masa2 di Bandung, bikin LPD, ke Lembang :) ... Abis itu mandi, makan, baru deh naik ke Gua Maria.

Jalan Salib

Udah seger dan kenyang, perjalanan ziarah dimulai dengan jalan salib ... hmm, semacam renungan mengenangkan penderitaan Yesus gitulah ... ada 14 perhentian buat doa, dan dari satu perhentian ke perhentian lain tuh tempatnya lumayan jauh, harus mendaki bukit. Buat ke perhentian pertama aja lumayan jauh :(( ... Dasar lembam, dah lama gak jalan jauh, ini jalannya naek, jadi langsung capek deh. Tapi aku masih lumayan seger lho :p! Perhentian2 awal, masih seger. Gak terlalu terjal juga. Tapi makin lama kok makin terjal ya :p ... Ancur deh, makin lama, bener2 makin terjal. Ngos-ngosan nih. Untung pemandangan di sekitar cukup menghibur ... Alamnya indah, terus banyak pohon2annya ... hmm, it is soo peaceful ...

Nyampe di atas, menjelang perhentian terakhir, ada salib yang lumayan gede, ada rerumputan di depannya .. terus disekitar nya banyak pohon2 ... hmm, bayangin sendiri deh. Kalau aku bisa berlama2 di situ, kayaknya asik juga tuh duduk aja diem di depan salib, gak ngapa2in ... :) ... Tapi gak bisa lama2, kita harus segera lanjut ke Gua Maria, tempat tujuan kita. Guanya kecil, lebih kecil dari Sendang sono. Tapi tempatnya adeemm, dan air nya jernih, dingin ... hmmm ... Sayangnya banyak yang pada brisik, foto2, ...

My favorite

Yang paling asik kalo di depan Gua Maria gitu adalah berlama2 duduk di situ. Sometimes gak berdoa, cuma berdiam diri, menenangkan diri, berefleksi sejenak. Dan itu obat yang mujarab buat sejenak melarikan diri dari kesuntukan. Kayak kali ini ... hiks ... Kepalaku berat banget sejak di Jakarta gara2 'that thing'. Kepala berat, hati marah, it is really a mess. Hmm, baru kali ini rasanya aku marah ma anak itu. Marahnya telat kali ya. Tapi kayak dia bilang, mending aku marah daripada aku pendem2 gak karuan, tar bisa meledak. So, here I am, really mad to you ... Saking mumetnya, aku gak kepikiran buat memohon sesuatu ... toh Yang Di Atas tahu segalanya. Apa yang terjadi padaku, apa yang aku minta, walaupun belum tentu dikabulkan siih ... hahaha.

So, berlama2 lah aku di situ. Sama Lusi dan Vero. Dan ternyata ditinggal, yang lain dah pada balik ke Susteran ... hehehe ... Tapi kita nyantei kok. Kita tenang2 aja, sempet beli es kelapa muda dulu di saung, beli tape ketan, beli manisan sirsak, ... banyak dehh. Beli dendeng celeng segala :)) !!!

Hmm ... benernya banyak banget deh yang bisa diceritain ... tapi ini aja dah kepanjangan ... Dah malem pula. Aku pulang dulu ah ... cape juga, gempor juga.

Oh God, please listen to my pray ...
If things burdened me can be fixed, please do it ...
If can not, please give me strength ...


Ok deh, besok dah kerja lagi. Tomorrow should be bright and better ;)

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...