Posting ini tentang the old days ... bukan berarti aku mau bernostalgia kelamaan ya :p
Pernah gak nemu orang yang fulfilled your needs? Pasti pernah ya ...
I did, a few years ago :p ...
He was one of the guys met my criteria ... ;) - physically, brain, cara mikir, semuanya dah. Physically aku selalu suka cowok tinggi, atletis yang suka olahraga. Cuek dan gak pedulian (anehnya aku gak suka dicuekin :p). Smart - gak cuma dalam artian IP tinggi huehehe ... - tapi nyambung kalo diajakin ngobrol ngalor ngidul mulai dari teknologi sampai film. I also tends to like guys with the face of "mr. nice guy" - tampang baik hati .. hmm cool ... dan cowok cerewet yang bisa mendadak mengubah aku yang suka kehabisan bahan pembicaraan ini cerewet sepanjang makan malam.
To make it short, I met him. Unfortunatelly setelah sempet jalan bareng, dia akhirnya lebih memilih ceweknya yang sekarang ... hehehe ... poor me :p ... Hmm, sampai sekarang aku masih beranggapan bahwa cowok itu yang paling mendekati most of my needs. He got all I need in a guy.
After we didn't get along well ... I met another guy who is 180 degree different from Mr. Nice Guy. Dari fisik sampai sifat dan habit, bertolak belakang banget. Satu dua hal mungkin sama, smart dan cuek bebek gak karuan. Tapi the rest of him enggak ada klop2nya sama kriteria2 gila itu: dia yang pendiam cenderung introvert dengan reputasi smoker berat ... bukan penggemar berat olahraga ... Kebayang dong waktu pertama2 sering jalan bareng. Aku susah payah cari topik biar gak kehabisan bahan pembicaraan hahaha. But later I found him really different ... enak diajak ngobrol.
Tapi ternyata dengan segala kriteria yang tidak terpenuhi itu I found myself really like him. Again it didn't work well, he's not sure where it was going, so we stopped seing each other. Dari dua orang yang berbeda itu, yang satu really fit my criteria, yang satu 'just ok' - tapi kalau aku boleh memilih *ini cuma pengandaian yang gak ada gunanya :p* ternyata aku milih yang kedua, yang 'just ok'.
Tau gak kenapa? Karena yang di luar itu gak penting - mulai dari fisik sampai tingkat talkativeness. It does matter at the first time, tapi ketika aku nemuin hal2 yang prinsip, it doesn't matter anymore. Toh I am not at anyone's perfect list. I never be. So, I don't expect someone's perfect any longer. Just OK is enough.
Pernah gak nemu orang yang fulfilled your needs? Pasti pernah ya ...
I did, a few years ago :p ...
He was one of the guys met my criteria ... ;) - physically, brain, cara mikir, semuanya dah. Physically aku selalu suka cowok tinggi, atletis yang suka olahraga. Cuek dan gak pedulian (anehnya aku gak suka dicuekin :p). Smart - gak cuma dalam artian IP tinggi huehehe ... - tapi nyambung kalo diajakin ngobrol ngalor ngidul mulai dari teknologi sampai film. I also tends to like guys with the face of "mr. nice guy" - tampang baik hati .. hmm cool ... dan cowok cerewet yang bisa mendadak mengubah aku yang suka kehabisan bahan pembicaraan ini cerewet sepanjang makan malam.
To make it short, I met him. Unfortunatelly setelah sempet jalan bareng, dia akhirnya lebih memilih ceweknya yang sekarang ... hehehe ... poor me :p ... Hmm, sampai sekarang aku masih beranggapan bahwa cowok itu yang paling mendekati most of my needs. He got all I need in a guy.
After we didn't get along well ... I met another guy who is 180 degree different from Mr. Nice Guy. Dari fisik sampai sifat dan habit, bertolak belakang banget. Satu dua hal mungkin sama, smart dan cuek bebek gak karuan. Tapi the rest of him enggak ada klop2nya sama kriteria2 gila itu: dia yang pendiam cenderung introvert dengan reputasi smoker berat ... bukan penggemar berat olahraga ... Kebayang dong waktu pertama2 sering jalan bareng. Aku susah payah cari topik biar gak kehabisan bahan pembicaraan hahaha. But later I found him really different ... enak diajak ngobrol.
Tapi ternyata dengan segala kriteria yang tidak terpenuhi itu I found myself really like him. Again it didn't work well, he's not sure where it was going, so we stopped seing each other. Dari dua orang yang berbeda itu, yang satu really fit my criteria, yang satu 'just ok' - tapi kalau aku boleh memilih *ini cuma pengandaian yang gak ada gunanya :p* ternyata aku milih yang kedua, yang 'just ok'.
Tau gak kenapa? Karena yang di luar itu gak penting - mulai dari fisik sampai tingkat talkativeness. It does matter at the first time, tapi ketika aku nemuin hal2 yang prinsip, it doesn't matter anymore. Toh I am not at anyone's perfect list. I never be. So, I don't expect someone's perfect any longer. Just OK is enough.
Comments