Skip to main content

Rekoleksi

Sekian lama gak rekoleksi, retret, atau menarik diri sejenak dari kesibukan - sadar gak sadar bikin aku terjebak dalam rutinitas, segala aktivitas - terutama pekerjaan, tanpa pernah memaknainya lebih dalam.

Kemaren aku rekoleksi, diajak teman yang kerja di Permata Bank. I found something missing. Kesempatan buat berefleksi, melihat benang merah dari kejadian sehari2 yang aku alami, dan mencoba melihat kehendak Dia terhadap hidupku itu apa seh.

Segala protesku terhadap Tuhan selama ini - makin parah setahun belakangan actually - pelan2 mendapatkan jawabannya. It's not an instant event - bukan pencerahan yang aku dapat tiba2 waktu rekoleksi kemaren. It's a long process for more than 1 years.

Pengalaman gagal, ditolak, gak diinginkan, tentu menyakitkan buat tiap orang. For me, it is really ruined me inside. Proses buat menyembuhkannya, really takes a long time. Starting with losing a person that means a lot to me, denial with the facts that he'd rather be with someone else than me, my rejection to continue being friends with him, my rejection to accept his apologize, getting along as friends with him again, ahhh ... a lot lah ....

Till it comes to a point that I can not do anything but accept it. Trying to move on, meet somebody else, hanging around with my friends ... It is pretty hard, but finally I can make it, although - still - I don't understand with it's all about.
Just trying to believe that there must be some reason behind ...

Kemaren, Romo pembimbingnya dengan cantik memaparkan sebuah perikop dari Kitab Suci. I am not a prayer, yet not a bible reader :) ... Tapi pemaparannya 'mempesonakan' huehehe ... bahasanya. And again, it helped me to see ... that from the worst thing, something good could come :)

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...