Skip to main content
For someone, somewhere ... outhere

Berpacu dengan waktu, mengejar deadline pekerjaan yang tak ada hentinya, bukan hal baru. Belum juga setengah nafas beristirahat, tumpukan pekerjaan baru sudah menanti. Semuanya seakan berpacu begitu cepat.

Tapi di penghujung hari, selepas semua kesibukan itu, waktu tiba-tiba berjalan begitu lambat ketika aku pikiranku menerawang tentang aku, tentang kamu, tentang kita. Mengapa waktu berjalan begitu lambat denganmu? Tak kunjung tiba waktunya kita bisa tertawa bersama lagi. Tentu saja yang kumaksudkan adalah tertawa lepas tanpa beban, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan, tanpa keharusan. Mengapa tak kunjung tiba waktunya semua terhapus dari benak kita? Kemarahanku, kekecewaanku, dan harapanku padamu. Kekhawatiranmu, kejengkelanmu, mungkin juga kekecewaanmu padaku.

Semua memang tergantung dari kita berdua.Beberapa kali aku mencoba untuk menghapus kejadian-kejadian itu dari benakku. Menciptakan moment untuk segera memperbaiki keadaan. Sesaat aku mengira aku berhasil, tapi ternyata aku hanya menambah kacau keadaan. Selalu begitu yang terjadi. Mungkin terasa basi, tapi aku minta maaf untuk kekacauan itu.

Sampai akhirnya aku hanya bisa mengeluh dalam diamku. Aku mulai lelah dan ragu, mungkin waktu memang tak akan mengantarkan aku ke tempat dan masa di mana ada tawa kita bersama. Tak muluk-muluk aku mengharapkan tawa atau canda mesra. Tawa sebagai dua orang sahabat pun sungguh di luar jangkauanku.

Apa yang bisa kuperbuat? Tak ada. Hanya diam, hanya menunggu. Apa yang bisa kau perbuat? Hanya kau yang tahu jawabnya. Apapun yang bisa kau perbuat, kutunggu hal itu ...

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...