Udah lama euy enggak nge-blog, biasaaa, tenggelam dalam pekerjaan yang tak berujung :p ... Tadi aku abis email-email an ma temenku, tentang Paus yang baru. Ini nih sedikit uneg-unegku.
Aku juga udah baca beberapa ulasan tentang Ratzinger dari Parokinet dan Kompas. Ada beberapa tulisan menuliskan bahwa Ratzinger tidak sekeras yang dikira orang. Hopefully it is true, huehehe ...
Aku sendiri, awalnya berharap bahwa siapa pun yang terpilih menjadi Paus mampu membawa pembaharuan dalam tubuh Gereja, terutama buat isu2 internal. Ini bukan barang baru, dan pasti kamu udah banyak baca, tapi ada beberapa sikap Gereja yang aku enggak ngerti, misalnya :
Wanita gak boleh jadi pastor. I am not a feminist, dan gak berminat jadi biarawati atau pastor (kalau cewek boleh jadi pastor), tapi aku gak melihat ada alasan yang logis di balik itu. Kalau dulu (jaman Yesus) mungkin make sense, karena kondisi sosial waktu itu meletakkan cewek tidak sejajar sama cowok, sehingga kalau Yesus terlahir jadi cewek (misalnya :p) justru pergerakannya jadi kurang strategis. Atau kalau dulu pastor cowok lebih diperlukan karena harus jadi pewarta di daerah terpencil, mbabat alas, dst ... Tapi kalo sekarang kan kondisi dah berubah.
Pastor selibat. Jaman sekarang, selibat nyaris nggak mungkin. Ini hasil percakapanku dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Pendeta2 Gereja Protestan boleh menikah, juga beberapa pendeta ritus lain. Emang seh, kalo orang berkeluarga, sulit untuk dituntut dia bisa melayani secara total kayak seorang pastor. Tapi liat fakta di lapangan, banyak pastor lepas jubah dan berkeluarga. So, apa jalan tengahnya?
Alat kontrasepsi. Aku baru tau belakangan bahwa Roma melarang penggunaan alat kontrasepsi, bahkan penggunaan kondom untuk penderita AIDS. Aku pikir tadinya yang dilarang itu cuma alat2 kontrasepsi yang menghancurkan embrio, kayak spiral misalnya. Hari gini gitu lho, menurutku gak make sense kalo penggunaan kondom dilarang, apalagi untuk penderita AIDS. Bukannya dengan begitu korban semakin
berjatuhan? Terus kalau ada orang miskin, anaknya udah 5, jadi makin miskin lagi gara2 gak boleh pake alat kontrasepsi. Lha, bukannya jadi kontradiksi ya, demi mematuhi hukum Gereja, dia jadi lebih miskin ...
Soal2 lain kayak perkawinan sesama jenis, euthanasia, hmmm, akur aja deh sama Gereja, soale belum pernah nemu kasus praktisnya di masyarakat :p Hehehe ... itu sekedar uneg2 aja seh ... :)
Aku juga udah baca beberapa ulasan tentang Ratzinger dari Parokinet dan Kompas. Ada beberapa tulisan menuliskan bahwa Ratzinger tidak sekeras yang dikira orang. Hopefully it is true, huehehe ...
Aku sendiri, awalnya berharap bahwa siapa pun yang terpilih menjadi Paus mampu membawa pembaharuan dalam tubuh Gereja, terutama buat isu2 internal. Ini bukan barang baru, dan pasti kamu udah banyak baca, tapi ada beberapa sikap Gereja yang aku enggak ngerti, misalnya :
Wanita gak boleh jadi pastor. I am not a feminist, dan gak berminat jadi biarawati atau pastor (kalau cewek boleh jadi pastor), tapi aku gak melihat ada alasan yang logis di balik itu. Kalau dulu (jaman Yesus) mungkin make sense, karena kondisi sosial waktu itu meletakkan cewek tidak sejajar sama cowok, sehingga kalau Yesus terlahir jadi cewek (misalnya :p) justru pergerakannya jadi kurang strategis. Atau kalau dulu pastor cowok lebih diperlukan karena harus jadi pewarta di daerah terpencil, mbabat alas, dst ... Tapi kalo sekarang kan kondisi dah berubah.
Pastor selibat. Jaman sekarang, selibat nyaris nggak mungkin. Ini hasil percakapanku dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Pendeta2 Gereja Protestan boleh menikah, juga beberapa pendeta ritus lain. Emang seh, kalo orang berkeluarga, sulit untuk dituntut dia bisa melayani secara total kayak seorang pastor. Tapi liat fakta di lapangan, banyak pastor lepas jubah dan berkeluarga. So, apa jalan tengahnya?
Alat kontrasepsi. Aku baru tau belakangan bahwa Roma melarang penggunaan alat kontrasepsi, bahkan penggunaan kondom untuk penderita AIDS. Aku pikir tadinya yang dilarang itu cuma alat2 kontrasepsi yang menghancurkan embrio, kayak spiral misalnya. Hari gini gitu lho, menurutku gak make sense kalo penggunaan kondom dilarang, apalagi untuk penderita AIDS. Bukannya dengan begitu korban semakin
berjatuhan? Terus kalau ada orang miskin, anaknya udah 5, jadi makin miskin lagi gara2 gak boleh pake alat kontrasepsi. Lha, bukannya jadi kontradiksi ya, demi mematuhi hukum Gereja, dia jadi lebih miskin ...
Soal2 lain kayak perkawinan sesama jenis, euthanasia, hmmm, akur aja deh sama Gereja, soale belum pernah nemu kasus praktisnya di masyarakat :p Hehehe ... itu sekedar uneg2 aja seh ... :)
Comments