Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2005

Selamat Ulang Tahun, Wi

Bandung, 1998. Beberapa anak muda sedang berbenah di rumah kosong itu. Mereka hendak menyelenggarakan pertemuan antara beberapa kelompok kaderisasi mahasiswa (waktu itu idealisme masih membara :). Di antara beberapa panitia, saya yang paling yunior. Kami sedang menunggu beberapa peserta yang belum datang, ketika seorang cewek tomboy berambut cepak datang membawa tas ransel besar. Seperti mau turun gunung saja, batin saya waktu itu. Cewek itu mengenalkan diri sebagai wakil dari Mudika Jatinangor. Mendengar Mudika Jatinangor disebut, saya langsung menoleh dari kesibukan beres-beres. “Dewi ya ?”, tebak saya ketika menyapa cewek itu. “Mita ya ?” , balasnya hangat, menyambut saya dengan tawa dan cengirannya. Dalam waktu 5 menit kami seperti dua orang teman lama yang bertemu lagi. Tiba-tiba Sigit menyela pembicaraan hangat itu, “Kalian teman SMA ?” , dan kami berdua terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. Itu perkenalan pertama saya dengan Dewi, seorang sahabat yang kemudian menjadi teman ...

Letupan-letupan kecil

Sore itu saya kembali berdebat tak berujung dengan seorang teman. Perdebatan yang bodoh, tak penting, dan hanya menghabiskan energi kami berdua. Bermula dari komentar ‘sadis’ saya tentang topik rekoleksi yang akan akan diadakan oleh teman saya dan komunitasnya. “Hari giniii, ngomongin relationship, basi“. Ternyata komentar spontan itu memancing emosinya. Kalau saya lihat lagi, memang cukup sadis komentar saya, tapi itu spontan * pembelaan diri * hahaha. Waktu komentar itu keluar dari mulut saya, saya berpikir betapa sering kita membuang-buang waktu untuk berdiskusi dan membahas pentingnya relationship dan cara-cara memaintainnya. Saya katakan membuang-buang waktu karena semua teori dan toolings itu tidak akan berguna kalau kita tidak punya niat untuk mempertahankan hubungan baik atau untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Tapi saya akui saya kurang smooth dalam menyampaikannya, sehingga yang keluar seolah-olah adalah personal attack. Saya baru menyadari bahwa itu sangat mu...

Ditya

Satu weekend lewat lagi. Belakangan waktu rasanya cepat sekali berjalan. Pekerjaan yang bertumpuk, membuat weekend menjadi waktu yang berharga, walaupun sekedar untuk bersantai di kamar kost, atau bercanda bersama sepupu-sepupu di Matraman. Demikian juga weekend ini, kami makan-makan di Matraman. Salah satu yang hadir namanya Ditya, tetangga baik yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ditya, cowok gendut yang baru lulus SMP, bayangkan, beratnya 93 kg, dengan tinggi yang saya yakin hanya 160 sekian ... Masih aleman dan kolokan, tapi tahun ini dia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Gonzaga. Malam itu kami menggodanya, perihal kewajiban-kewajiban seperti mencuci dan menyetrika, dan juga larangan untuk ditengok selama tiga bulan pertama. "Gimana tuh kalau tiga bulan nggak boleh ditengok, kamu nggak kangen sama Mama :p? Ntar kamu nangis ... " *hehehe ... ada empat orang yang tiba2 muncul tanduk di kepalanya* Terus dengan lugunya si Ditya membuat kami ngakak dengan jawabannya,...

Mari, temani saya ...

Sebenarnya saya juga lelah, sama seperti kamu ... Berputar-putar dalam ketidakpastian ... Dalam angan-angan yang tak pernah menjadi nyata ... Tapi saya tidak akan berhenti, saya tidak akan menyerah ... Jadi saya mohon kamu pun jangan menyerah ... Temani saya untuk belajar menerima kenyataan ... Temani juga saya untuk memperjuangkan impian ... Dedicated to : teman mengobrol semalam

Buat apa bersyukur?

Percakapan tadi dengan seorang teman masih terus berputar-putar di kepala. Awalnya karena dia berkata , “Saya sedang mencoba berserah, berpasrah”. Pembicaraan kami berputar ke banyak hal, tentang berdoa, tentang bersyukur, tentang Tuhan yang seolah-olah tidak melakukan campur tangan apa-apa atas carut-marut-suka-duka yang terjadi di dunia ... Jadi buat apa bersyukur? Lalu saya bercerita tentang kesempatan mendapat beasiswa yang tiba-tiba ditawarkan oleh seorang teman kepada saya. It’s like an answer to my pray, setelah bertahun-tahun saya minta supaya diberi kesempatan untuk sekolah lagi, meng-invest-kan banyak hal untuk mencapai keinginan saya itu, kemudian gagal, dan saya sempat menyerah. Ketika saya diam, karena merasa semua permohonan saya tidak dikabulkan. Saya menyerah, karena Tuhan berlaku tidak adil pada saya. Ketika itu, sebuah kesempatan come up, out of nowhere. Lalu dia bertanya, “Tawaran itu datangnya dari temanmu kan?” Yup, Lalu dia bertanya lagi, “Kenapa dia tiba-tiba mem...

Reuni 2 Sahabat

It was not a really reunion, we're still in the same town, say hello each other and meet if we have leasure time. But it's pretty a long time ago when we sit down together in a room called 'kamar kost' ,.... have a long long talk ... just telling each other's story that has not been shared before, talking what we might be ashamed of to tell other friends, it was really releaving. "Gue sekarang tau apa yang begitu memukul elo. Dan damned, gue baru tau sekarang ... ya ampunnn ... elo gak pernah cerita ... " "Hahaha, aku kan udah bilang. Jadi aku pikir kamu dah tau ... " "Kok bisa sih?" "Ya bisa. You know what, sometimes I want to blame someone as the cause of these things ... hehehe " Percakapan malam itu membuat saya kangen sama seseorang. Sungguh kangen. Hmmm, lagi ngapain orang itu sekarang yak :) ?

Mama

Mama. Pagi-pagi suaranya membangunkan saya dari tidur ... "Masih tidur? Udah hampir jam 7. Dasar males, bangun! " "Heeeh, iyaah, masih ngantuuukkk ...." "Tadi malem telpon rumah? Ada apa? " "Iya, nggak ada apa2 kok" [after a few family news update] "Ya udah kalo gak ada apa2. Besok minggu depan mama mau ke Ambon ..." "Hah?? Ambon?? Ngapain ke Ambon???" *jadi agak terbangun dari kesadaran* "Biasaa, dodolan abab (jualan omongan - ngajar, ngasih seminar)" [dalam hati : ngapain pula si mama ke Ambon, di tengah2 keamanan Ambon yang nggak stabil, ah, no comment lah, I'll do the same thing if I were her] "Yo wis ..." Begitulah sosok perempuan yang melahirkan saya. Umur yang sudah lebih dari separuh abad tidak pernah mengurangi energinya. Mama, di usianya yang ke 57, masih aktif mengajar di UGM, masih memberikan seminar ke sana sini. Masih suka tiba-tiba ke Jakarta menghadiri presentasi Riset Unggulan, pergi k...

Naif

[sms tone is ringing] 0811xxx : Describe me in ONE WORD. Just one! me: Hmm ... unpredictable :) If I send this back to u, what is the answer? 0811xxx : Lugu :p me: [gubraksss. Am I that naive' ??] Hahaha ... me: Do u think that what I am thinking, feeling, like/dislike is simply showed in my expression? Yes/No 0811xxx: Yes. me: [So ... u knew it ....] *DELETED* Yeah, that's me, the true me, so naive. Saya naif mengira dunia akan ramah menyapa orang yang mencoba selalu ramah pada dunia. Saya naif mengira cinta tidak akan menyakiti saya jika saya tidak menjadikannya sebuah permainan. Saya begitu naif mencintai seorang lelaki, bahkan saya tidak tahu mengapa saya mencintainya. Inilah saya, sejujur-jujurnya. Saya hanya seorang gadis kecil yang naif, yang selalu memberikan seluruh hatinya, ketika dia jatuh cinta. Pun ketika cinta itu tak berbalas, atau ditinggalkan. Saya begitu naif untuk terus mencoba mencintai tanpa syarat. Saya mengakui apa yang saya rasakan, tapi itu tidak bera...

Sudah ketemu kompasnya ?

Tadi pagi seorang sahabat menyapa, "Sudah ketemu kompasnya ?" ... dia mengomentari posting yang lalu. "Hehe, belum, susah," jawabku ... Percakapan tadi sejenak membawa ingatanku kembali ke Bandung, sebulan yang lalu. Seperti biasanya dalam kunjungan weekend ke Bandung aku selalu menyempatkan diri mengobrol semalaman dengan Dewi di rumah biru yang nyaman itu *Cisitu, I always love to be there!*. Seperti biasa, Kami berbincang banyak tentang pilihan-pilihan yang ada di depan kami. Dan seperti biasa, satu pilihan menawarkan kenyamanan dalam kemapanan, sedangkan pilihan lain menjanjikan petualangan-petualangan baru dalam ketidakpastian. Dan malam itu pun penuh dengan gelak tawa, ketika aku melihat sebuah foto hasil bidikannya, yang dihiasi dengan kata-kata indah. Sayangnya aku lupa tepatnya kata-kata itu, tapi intinya, "Keindahan hanya akan didapat oleh orang yang berani mencari dalam ketidak pastian" , hahaha ... Begitulah, mungkin kompas itu belum juga ketem...

What is your vision ?

Malam tadi Suster Gerardette kembali memunculkan pertanyaan 'sederhana' yang jawabannya sungguh rumit untuk ditemukan , "What is your vision of life ? What is your mission ?" Bertahun-tahun yang lalu, pertanyaan itu rasanya tidak asing buat saya. Saya berada di lingkungan yang selalu mempertanyakan keberadaan diri kita masing-masing. Di mana posisi kita sekarang? Apa peran yang dapat kamu lakukan sekarang? Apa tujuan jangka panjang kamu? Apa nilai-nilai yang kamu pegang? Walaupun susah untuk mendapatkan jawabnya, dahulu kompas itu masih ada di tangan. Baik buruk jelas batasnya. Idealisme begitu membahana. Sarana untuk mewujudkannya pun relatif masih ada. Tapi waktu selalu berjalan. Sekarang saya bukan lagi mahasiswa. Tak ada lagi komunitas yang solid yang selalu mendukung saya untuk menyalakan 'api' itu di dada. Kehidupan real, kini ada di depan saya. Dan sebenarnya, justru sekaranglah saatnya untuk mempertanyakan ulang jalan hidup saya. Kehidupan, bukan seper...

Apa artinya?

Sebuah peristiwa membuat ku flashback ke setahun yang lalu. Ketika itu, apa yang dirasakan olehnya begitu jelas terlihat dalam mimik dan tindakannya. Tawa di matanya, tatapannya, semuanya ... Tak perlu menjadi jenius, remaja polos belasan tahun pun tahu artinya ... Tapi kini aku tak tahu artinya. Aku sudah kehilangan kompasku, dan pengharapanku ada di titik nol. Apakah ada hubungannya kejadian malam itu dengan sepenggal episode yang terjadi tahun lalu? Atau hanya tanda persahabatan belaka?