Mama. Pagi-pagi suaranya membangunkan saya dari tidur ...
"Masih tidur? Udah hampir jam 7. Dasar males, bangun! "
"Heeeh, iyaah, masih ngantuuukkk ...."
"Tadi malem telpon rumah? Ada apa? "
"Iya, nggak ada apa2 kok"
[after a few family news update]
"Ya udah kalo gak ada apa2. Besok minggu depan mama mau ke Ambon ..."
"Hah?? Ambon?? Ngapain ke Ambon???" *jadi agak terbangun dari kesadaran*
"Biasaa, dodolan abab (jualan omongan - ngajar, ngasih seminar)"
[dalam hati : ngapain pula si mama ke Ambon, di tengah2 keamanan Ambon yang nggak stabil, ah, no comment lah, I'll do the same thing if I were her]
"Yo wis ..."
Begitulah sosok perempuan yang melahirkan saya. Umur yang sudah lebih dari separuh abad tidak pernah mengurangi energinya. Mama, di usianya yang ke 57, masih aktif mengajar di UGM, masih memberikan seminar ke sana sini. Masih suka tiba-tiba ke Jakarta menghadiri presentasi Riset Unggulan, pergi ke Surabaya melayat suami teman lamanya, pergi ke Ambon buat ngasih seminar ... Sebenarnya, aku sedikit kuatir tentang rencananya ke Ambon. Ambon is not a very safe place lately. Tapi apa yang bisa kulakukan? Melarangnya? Tak mungkin, karena aku pun pasti bersorak gembira kalau aku dapat kesempatan jalan-jalan ke Ambon.
Sebulan yang lalu, waktu aku liburan ke Bali, tiba-tiba mama ngirim SMS.
mama:
Ngapain aja di Bali?
me:
Snorkling, liat pemandangan bawah laut
mama:
Hehe, kalau itu juga aku kepengen.
See ... my mom ... Ibu Profesor yang tak kenal lelah, bahkan menurut seorang sobatku dia adalah perempuan yang jauh lebih funky dari anaknya. Seorang ibu yang bisa tiba-tiba menggosip dengan Ito sambil makan rambutan di halaman depan rumahku, atau tiba-tiba ngobrol dengan akrab dengan Setio ... :) Dia selalu menganggap anak perempuannya 'tak bisa diam' dan 'kepala batu'. Hmmm, padahal dari mana sifat itu berasal ... hahaha. Like mother, like daughter. Dan saking miripnya sifat kami berdua, pertengkaran sering menjadi pemanis hubungan kami :)
"Masih tidur? Udah hampir jam 7. Dasar males, bangun! "
"Heeeh, iyaah, masih ngantuuukkk ...."
"Tadi malem telpon rumah? Ada apa? "
"Iya, nggak ada apa2 kok"
[after a few family news update]
"Ya udah kalo gak ada apa2. Besok minggu depan mama mau ke Ambon ..."
"Hah?? Ambon?? Ngapain ke Ambon???" *jadi agak terbangun dari kesadaran*
"Biasaa, dodolan abab (jualan omongan - ngajar, ngasih seminar)"
[dalam hati : ngapain pula si mama ke Ambon, di tengah2 keamanan Ambon yang nggak stabil, ah, no comment lah, I'll do the same thing if I were her]
"Yo wis ..."
Begitulah sosok perempuan yang melahirkan saya. Umur yang sudah lebih dari separuh abad tidak pernah mengurangi energinya. Mama, di usianya yang ke 57, masih aktif mengajar di UGM, masih memberikan seminar ke sana sini. Masih suka tiba-tiba ke Jakarta menghadiri presentasi Riset Unggulan, pergi ke Surabaya melayat suami teman lamanya, pergi ke Ambon buat ngasih seminar ... Sebenarnya, aku sedikit kuatir tentang rencananya ke Ambon. Ambon is not a very safe place lately. Tapi apa yang bisa kulakukan? Melarangnya? Tak mungkin, karena aku pun pasti bersorak gembira kalau aku dapat kesempatan jalan-jalan ke Ambon.
Sebulan yang lalu, waktu aku liburan ke Bali, tiba-tiba mama ngirim SMS.
mama:
Ngapain aja di Bali?
me:
Snorkling, liat pemandangan bawah laut
mama:
Hehe, kalau itu juga aku kepengen.
See ... my mom ... Ibu Profesor yang tak kenal lelah, bahkan menurut seorang sobatku dia adalah perempuan yang jauh lebih funky dari anaknya. Seorang ibu yang bisa tiba-tiba menggosip dengan Ito sambil makan rambutan di halaman depan rumahku, atau tiba-tiba ngobrol dengan akrab dengan Setio ... :) Dia selalu menganggap anak perempuannya 'tak bisa diam' dan 'kepala batu'. Hmmm, padahal dari mana sifat itu berasal ... hahaha. Like mother, like daughter. Dan saking miripnya sifat kami berdua, pertengkaran sering menjadi pemanis hubungan kami :)
Comments