Sore itu saya kembali berdebat tak berujung dengan seorang teman. Perdebatan yang bodoh, tak penting, dan hanya menghabiskan energi kami berdua. Bermula dari komentar ‘sadis’ saya tentang topik rekoleksi yang akan akan diadakan oleh teman saya dan komunitasnya. “Hari giniii, ngomongin relationship, basi“. Ternyata komentar spontan itu memancing emosinya. Kalau saya lihat lagi, memang cukup sadis komentar saya, tapi itu spontan * pembelaan diri * hahaha.
Waktu komentar itu keluar dari mulut saya, saya berpikir betapa sering kita membuang-buang waktu untuk berdiskusi dan membahas pentingnya relationship dan cara-cara memaintainnya. Saya katakan membuang-buang waktu karena semua teori dan toolings itu tidak akan berguna kalau kita tidak punya niat untuk mempertahankan hubungan baik atau untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.
Tapi saya akui saya kurang smooth dalam menyampaikannya, sehingga yang keluar seolah-olah adalah personal attack. Saya baru menyadari bahwa itu sangat mungkin dianggap sebagai personal attack ketika malamnya saya bahas hal itu dengan seorang sahabat.
Aduh, susah betul berkomunikasi dengan orang. Apalagi kalau pernah ada kejadian yang tidak terlalu mengenakkan, menjadi lebih susah bagi saya. Yang saya inginkan adalah sebuah pertemanan yang terbuka, tanpa ada tersinggung-tersinggungan, tanpa sensitivitas yang berlebihan. Saya yakin, teman saya itu pun menginginkan hal yang kurang lebih mirip. Tapi ketika mencoba menjalaninya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Emosi dan sensitivitas sering mewarnai percakapan kami berdua. Suasana bisa berubah-ubah dengan sangat cepat, tawa canda bisa berubah jadi diam seketika, atau letupan-letupan ketidak puasan dalam kalimat yang dingin dan pendek-pendek, baik dari saya, maupun dari dia.
Meskipun persoalan saya sudah selesai dengan satu sms pendek “maaf yaa ... “, tampaknya masih banyak yang perlu saya pelajari, belajar me-manage emosi, belajar untuk menjadi lebih peka dan komunikatif, dan belajar mengerti orang lain. Duh banyaknya,dan susah ... Bisakah saya ?
Waktu komentar itu keluar dari mulut saya, saya berpikir betapa sering kita membuang-buang waktu untuk berdiskusi dan membahas pentingnya relationship dan cara-cara memaintainnya. Saya katakan membuang-buang waktu karena semua teori dan toolings itu tidak akan berguna kalau kita tidak punya niat untuk mempertahankan hubungan baik atau untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.
Tapi saya akui saya kurang smooth dalam menyampaikannya, sehingga yang keluar seolah-olah adalah personal attack. Saya baru menyadari bahwa itu sangat mungkin dianggap sebagai personal attack ketika malamnya saya bahas hal itu dengan seorang sahabat.
Aduh, susah betul berkomunikasi dengan orang. Apalagi kalau pernah ada kejadian yang tidak terlalu mengenakkan, menjadi lebih susah bagi saya. Yang saya inginkan adalah sebuah pertemanan yang terbuka, tanpa ada tersinggung-tersinggungan, tanpa sensitivitas yang berlebihan. Saya yakin, teman saya itu pun menginginkan hal yang kurang lebih mirip. Tapi ketika mencoba menjalaninya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Emosi dan sensitivitas sering mewarnai percakapan kami berdua. Suasana bisa berubah-ubah dengan sangat cepat, tawa canda bisa berubah jadi diam seketika, atau letupan-letupan ketidak puasan dalam kalimat yang dingin dan pendek-pendek, baik dari saya, maupun dari dia.
Meskipun persoalan saya sudah selesai dengan satu sms pendek “maaf yaa ... “, tampaknya masih banyak yang perlu saya pelajari, belajar me-manage emosi, belajar untuk menjadi lebih peka dan komunikatif, dan belajar mengerti orang lain. Duh banyaknya,dan susah ... Bisakah saya ?
Comments