Skip to main content

Letupan-letupan kecil

Sore itu saya kembali berdebat tak berujung dengan seorang teman. Perdebatan yang bodoh, tak penting, dan hanya menghabiskan energi kami berdua. Bermula dari komentar ‘sadis’ saya tentang topik rekoleksi yang akan akan diadakan oleh teman saya dan komunitasnya. “Hari giniii, ngomongin relationship, basi“. Ternyata komentar spontan itu memancing emosinya. Kalau saya lihat lagi, memang cukup sadis komentar saya, tapi itu spontan * pembelaan diri * hahaha.

Waktu komentar itu keluar dari mulut saya, saya berpikir betapa sering kita membuang-buang waktu untuk berdiskusi dan membahas pentingnya relationship dan cara-cara memaintainnya. Saya katakan membuang-buang waktu karena semua teori dan toolings itu tidak akan berguna kalau kita tidak punya niat untuk mempertahankan hubungan baik atau untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.

Tapi saya akui saya kurang smooth dalam menyampaikannya, sehingga yang keluar seolah-olah adalah personal attack. Saya baru menyadari bahwa itu sangat mungkin dianggap sebagai personal attack ketika malamnya saya bahas hal itu dengan seorang sahabat.

Aduh, susah betul berkomunikasi dengan orang. Apalagi kalau pernah ada kejadian yang tidak terlalu mengenakkan, menjadi lebih susah bagi saya. Yang saya inginkan adalah sebuah pertemanan yang terbuka, tanpa ada tersinggung-tersinggungan, tanpa sensitivitas yang berlebihan. Saya yakin, teman saya itu pun menginginkan hal yang kurang lebih mirip. Tapi ketika mencoba menjalaninya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Emosi dan sensitivitas sering mewarnai percakapan kami berdua. Suasana bisa berubah-ubah dengan sangat cepat, tawa canda bisa berubah jadi diam seketika, atau letupan-letupan ketidak puasan dalam kalimat yang dingin dan pendek-pendek, baik dari saya, maupun dari dia.

Meskipun persoalan saya sudah selesai dengan satu sms pendek “maaf yaa ... “, tampaknya masih banyak yang perlu saya pelajari, belajar me-manage emosi, belajar untuk menjadi lebih peka dan komunikatif, dan belajar mengerti orang lain. Duh banyaknya,dan susah ... Bisakah saya ?

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...