Percakapan tadi dengan seorang teman masih terus berputar-putar di kepala. Awalnya karena dia berkata ,
“Saya sedang mencoba berserah, berpasrah”.
Pembicaraan kami berputar ke banyak hal, tentang berdoa, tentang bersyukur, tentang Tuhan yang seolah-olah tidak melakukan campur tangan apa-apa atas carut-marut-suka-duka yang terjadi di dunia ... Jadi buat apa bersyukur?
Lalu saya bercerita tentang kesempatan mendapat beasiswa yang tiba-tiba ditawarkan oleh seorang teman kepada saya. It’s like an answer to my pray, setelah bertahun-tahun saya minta supaya diberi kesempatan untuk sekolah lagi, meng-invest-kan banyak hal untuk mencapai keinginan saya itu, kemudian gagal, dan saya sempat menyerah. Ketika saya diam, karena merasa semua permohonan saya tidak dikabulkan. Saya menyerah, karena Tuhan berlaku tidak adil pada saya. Ketika itu, sebuah kesempatan come up, out of nowhere.
Lalu dia bertanya,
“Tawaran itu datangnya dari temanmu kan?”
Yup, Lalu dia bertanya lagi,
“Kenapa dia tiba-tiba memberi tawaran itu? “ ...
“Ya karena goodwill”, jawab saya, “Dan menurutku, Tuhanlah yang menaruh goodwill itu di temanku” .
Lalu teman saya tadi membantah, kira-kira begini,
“Itu kan hasil interaksi kamu dengan temanmu. Di mana campur tangan Tuhan dalam hal itu?”
Susah merangkai kata-kata untuk menjawabnya. Ada sesuatu yang saya rasa salah, ketidaksetujuan yang tidak sempat saya ungkapkan. Betul bahwa itu adalah hasil interaksi antara saya dengan teman saya. Tapi menurut saya, Tuhan berkarya bukan out of nowhere, melainkan melalui orang-orang di sekitar kita. Tuhan melakukan sesuatu untuk kita tidak seperti sulap atau sihir, tapi melalui keseharian kita masing-masing. Apa gunanya kita punya teman, kekasih, keluarga, rekan kerja, dan semua relasi yang lain, kalau cara kerja Tuhan adalah sekedar sulap dan sihir? Malah mungkin saya harus bertanya apa gunanya saya ada kalau tidak untuk ‘dikaryakan’ oleh Tuhan? Mungkin dikaryakan untuk keluarga saya, untuk teman, atau bahkan untuk seseorang yang sama sekali tidak saya kenal? Tentang hubungan sebab akibat yang pasti ada – yang biasa digunakan sebagai dalih untuk bertanya – Di mana Tuhan bekerja ? Bukannya hukum sebab akibatitu juga bikinan Tuhan? Kalau tidak ada hubungan sebab akibat, jadi apa dunia ini? Semua pasti jadi serba tak terukur,tidak bisa dibayangkan, hahaha ... karena bahkan dalam dunia yang sudah cukup terukur ini saja kita-kita masih sering pusing memikirkan hal-hal yang menurut kita ‘sering di luar logika’.
Saya bukan orang yang religius, namun sekarang, seperti teman saya itu – saya juga sedang berusaha ‘pasrah’ dan ‘bersyukur’ buat segala sesuatu. Yupe, buat segala sesuatu, yang baik dan tidak baik yang terjadi pada saya, yang menyenangkan juga menyedihkan. Buat apa tidak disyukuri? Cuma bikin kepala tambah pening … Saya punya seribu alasan untuk tidak bersyukur, untuk ngedumel, tapi apa akan mengubah keadaan? Saya sudah sering mencoba untuk bersyukur, dan sering gagal. Tapi bukan berarti saya harus berhenti. Karena itu tidak akan membantu saya sedikitpun.
Contoh paling real dalam hidup saya. Malu untuk mengakuinya, tapi saya tidak pernah berhasil dalam ‘relationship’. Beberapa kali saya mencoba dekat dengan seseorang, selalu berakhir dengan tidak enak bagi saya. Tentang hal yang satu itu, rasanya saya punya seribu satu alasan untuk tidak bersyukur dan mengumpat-umpat pada Tuhan, saya bisa bikin contoh list nya, hahaha... Misalnya, saya merasa perlu untuk mengumpat-umpat pada Tuhan karena :
1. Saya tidak dilahirkan dengan wajah yang cukup cantik (walaupun katanya cantik itu relatif, tapi saya cukup tahu diri untuk tidak menyebut diri saya cantik ;), Walaupun sahabat saya selalu bilang bahwa pada akhirnya yang penting adalah inner beauty, tapi toh saya sejujurnya selalu merasa jelek, bahkan inner beauty pun nonsense lah :) hahaha ...
2. Apa salah saya sehingga saya pernah begitu jatuh cinta kepada seorang cowok, yang menurut saya ‘full fill my criteria’, lalu berakhir ‘menyesakkan’ karena hadiah ulang tahun saya yang ke-25 adalah berita bahwa akhirnya dia memacari cewek lain (sh*t, he never had any guts to tell me), dan yang menjadi hadiah ulang tahun saya yang ke-27 adalah undangan pernikahannya. Walaupun saya sudah melupakannya, tetap saja, mendapatkan undangan pernikahan di hari ulang tahun adalah hal terakhir yang saya inginkan, *gubrakkks :p*
3. Apa pula salah saya ketika kemudian saya sempat dekat dengan seseorang, dan berakhir sempat diwarnai suasana yang sangat tidak enak di antara kami. Mungkin karena beda ekspektasi, mungkin karena beda penafsiran. Waktu itu saya benar-benar merasa gagal, down, sakit. Semua begitu berturutan, bertubi-tubi. Butuh waktu buat saya untuk bisa tertawa lagi.
Sempat saya mengumpat-umpat, tapi toh keadaan tidak berubah. Jadi apa untungnya? Apa situasi akan berubah? Apakah saya akan menjadi cantik, apakah ‘relationship’ saya akan berhasil? Memang tidak seketika itu juga saya dapat langsung berdiri, tapi akhirnya saya dapat menertawakan semua itu. Mungkin masih tertatih-tatih, dan kadang masih gagal dan menangis lagi, tapi sudah lebih baik, saya sudah bisa tertawa dan berkata (walaupun digagah-gagahkan ;)
1. Masih untung saya tidak cantik. Kalau saya cantik, saya pasti lebih belagu dari saya yang sekarang, hahaha. Karena bahkan dengan keadaan saya yang sekarang pun saya ‘cukup belagu’, hehehe.
2. Hmm, kalau saya tidak pernah jatuh cinta kepadanya, hidup saya tidak akan seberwarna sekarang! Dia cowok pertama yang bikin saya ‘nangis darah’ hahaha. (Oh ya, kalau ada yang membaca ini dan protes, saya akan katakan, yang sebelum-sebelumnya adalah bunga-bunga masa remaja, bukan cinta ... hahaha) Dan saya bersyukur, ternyata saya bisa mencintai sedalam itu, saya sendiri tidak menduganya. More of him … saya belajar dan mengalami banyak hal bersama dia. Dia yang dulu membangkitkan semangat saya buat sekolah lagi, dia yang mengajari saya pernak-pernik tentang investasi, stttt, karena patah hati pula, saya punya rumah. My little sweet home in Cibinong :p
3. Tentang seseorang yang sempat dekat itu ,hmmm, ternyata walaupun singkat, tapi sempat memukul saya. Tapi sudahlah, ternyata saya juga masih bisa bersyukur untuk pengalaman tersebut. Banyak hal kecil yang tampaknya simple dan sederhana yang saya dapatkan dari sosok yang satu ini, salah satunya adalah kembalinya kepercayaan diri saya, saya juga belajar melupakan orang yang pernah menyita hati, dan belajar jatuh cinta lagi. Bisa dibilang, kalau yang saya sebutkan sebelumnya membuat hidup saya berwarna, yang ini mencampurkan semua warna tersebut, menjadi warna yang lebih menarik mungkin yaa ...
Jadi, setelah saya sempat kehabisan tenaga untuk marah, menangis, dan mengumpat, akhirnya saya sampai pada titik di mana saya tidak bisa apa-apa selain diam. Ada kekuatan lain di luar diri saya. Ketika saya sudah mencoba sebaik mungkin, tapi ternyata ‘itu bukan kehendakNya’, apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya bisa menerima kenyataan, lain tidak. Saya mencoba bersyukur, atas semua yang terjadi. Yang penting, saya selalu mencoba melakukan yang terbaik. Bahkan, sekarang pun bukan berarti saya sudah berhasil 100 %, saya masih mencoba, dan terus mencoba.
Jadi, buat teman berbincang saya tadi, hmm, selamat mencoba bersyukur, pasti akan jatuh bangun, tapi kamu tidak sendirian. Saya, dan banyak teman lain juga demikian. Jatuh bangun dengan cerita manis dan pahit yang tentu berbeda, tapi kemudian berusaha bangkit lagi dengan semangat yang sama, semangat untuk mencoba mencari jawaban atas hidup ini ;)
“Saya sedang mencoba berserah, berpasrah”.
Pembicaraan kami berputar ke banyak hal, tentang berdoa, tentang bersyukur, tentang Tuhan yang seolah-olah tidak melakukan campur tangan apa-apa atas carut-marut-suka-duka yang terjadi di dunia ... Jadi buat apa bersyukur?
Lalu saya bercerita tentang kesempatan mendapat beasiswa yang tiba-tiba ditawarkan oleh seorang teman kepada saya. It’s like an answer to my pray, setelah bertahun-tahun saya minta supaya diberi kesempatan untuk sekolah lagi, meng-invest-kan banyak hal untuk mencapai keinginan saya itu, kemudian gagal, dan saya sempat menyerah. Ketika saya diam, karena merasa semua permohonan saya tidak dikabulkan. Saya menyerah, karena Tuhan berlaku tidak adil pada saya. Ketika itu, sebuah kesempatan come up, out of nowhere.
Lalu dia bertanya,
“Tawaran itu datangnya dari temanmu kan?”
Yup, Lalu dia bertanya lagi,
“Kenapa dia tiba-tiba memberi tawaran itu? “ ...
“Ya karena goodwill”, jawab saya, “Dan menurutku, Tuhanlah yang menaruh goodwill itu di temanku” .
Lalu teman saya tadi membantah, kira-kira begini,
“Itu kan hasil interaksi kamu dengan temanmu. Di mana campur tangan Tuhan dalam hal itu?”
Susah merangkai kata-kata untuk menjawabnya. Ada sesuatu yang saya rasa salah, ketidaksetujuan yang tidak sempat saya ungkapkan. Betul bahwa itu adalah hasil interaksi antara saya dengan teman saya. Tapi menurut saya, Tuhan berkarya bukan out of nowhere, melainkan melalui orang-orang di sekitar kita. Tuhan melakukan sesuatu untuk kita tidak seperti sulap atau sihir, tapi melalui keseharian kita masing-masing. Apa gunanya kita punya teman, kekasih, keluarga, rekan kerja, dan semua relasi yang lain, kalau cara kerja Tuhan adalah sekedar sulap dan sihir? Malah mungkin saya harus bertanya apa gunanya saya ada kalau tidak untuk ‘dikaryakan’ oleh Tuhan? Mungkin dikaryakan untuk keluarga saya, untuk teman, atau bahkan untuk seseorang yang sama sekali tidak saya kenal? Tentang hubungan sebab akibat yang pasti ada – yang biasa digunakan sebagai dalih untuk bertanya – Di mana Tuhan bekerja ? Bukannya hukum sebab akibatitu juga bikinan Tuhan? Kalau tidak ada hubungan sebab akibat, jadi apa dunia ini? Semua pasti jadi serba tak terukur,tidak bisa dibayangkan, hahaha ... karena bahkan dalam dunia yang sudah cukup terukur ini saja kita-kita masih sering pusing memikirkan hal-hal yang menurut kita ‘sering di luar logika’.
Saya bukan orang yang religius, namun sekarang, seperti teman saya itu – saya juga sedang berusaha ‘pasrah’ dan ‘bersyukur’ buat segala sesuatu. Yupe, buat segala sesuatu, yang baik dan tidak baik yang terjadi pada saya, yang menyenangkan juga menyedihkan. Buat apa tidak disyukuri? Cuma bikin kepala tambah pening … Saya punya seribu alasan untuk tidak bersyukur, untuk ngedumel, tapi apa akan mengubah keadaan? Saya sudah sering mencoba untuk bersyukur, dan sering gagal. Tapi bukan berarti saya harus berhenti. Karena itu tidak akan membantu saya sedikitpun.
Contoh paling real dalam hidup saya. Malu untuk mengakuinya, tapi saya tidak pernah berhasil dalam ‘relationship’. Beberapa kali saya mencoba dekat dengan seseorang, selalu berakhir dengan tidak enak bagi saya. Tentang hal yang satu itu, rasanya saya punya seribu satu alasan untuk tidak bersyukur dan mengumpat-umpat pada Tuhan, saya bisa bikin contoh list nya, hahaha... Misalnya, saya merasa perlu untuk mengumpat-umpat pada Tuhan karena :
1. Saya tidak dilahirkan dengan wajah yang cukup cantik (walaupun katanya cantik itu relatif, tapi saya cukup tahu diri untuk tidak menyebut diri saya cantik ;), Walaupun sahabat saya selalu bilang bahwa pada akhirnya yang penting adalah inner beauty, tapi toh saya sejujurnya selalu merasa jelek, bahkan inner beauty pun nonsense lah :) hahaha ...
2. Apa salah saya sehingga saya pernah begitu jatuh cinta kepada seorang cowok, yang menurut saya ‘full fill my criteria’, lalu berakhir ‘menyesakkan’ karena hadiah ulang tahun saya yang ke-25 adalah berita bahwa akhirnya dia memacari cewek lain (sh*t, he never had any guts to tell me), dan yang menjadi hadiah ulang tahun saya yang ke-27 adalah undangan pernikahannya. Walaupun saya sudah melupakannya, tetap saja, mendapatkan undangan pernikahan di hari ulang tahun adalah hal terakhir yang saya inginkan, *gubrakkks :p*
3. Apa pula salah saya ketika kemudian saya sempat dekat dengan seseorang, dan berakhir sempat diwarnai suasana yang sangat tidak enak di antara kami. Mungkin karena beda ekspektasi, mungkin karena beda penafsiran. Waktu itu saya benar-benar merasa gagal, down, sakit. Semua begitu berturutan, bertubi-tubi. Butuh waktu buat saya untuk bisa tertawa lagi.
Sempat saya mengumpat-umpat, tapi toh keadaan tidak berubah. Jadi apa untungnya? Apa situasi akan berubah? Apakah saya akan menjadi cantik, apakah ‘relationship’ saya akan berhasil? Memang tidak seketika itu juga saya dapat langsung berdiri, tapi akhirnya saya dapat menertawakan semua itu. Mungkin masih tertatih-tatih, dan kadang masih gagal dan menangis lagi, tapi sudah lebih baik, saya sudah bisa tertawa dan berkata (walaupun digagah-gagahkan ;)
1. Masih untung saya tidak cantik. Kalau saya cantik, saya pasti lebih belagu dari saya yang sekarang, hahaha. Karena bahkan dengan keadaan saya yang sekarang pun saya ‘cukup belagu’, hehehe.
2. Hmm, kalau saya tidak pernah jatuh cinta kepadanya, hidup saya tidak akan seberwarna sekarang! Dia cowok pertama yang bikin saya ‘nangis darah’ hahaha. (Oh ya, kalau ada yang membaca ini dan protes, saya akan katakan, yang sebelum-sebelumnya adalah bunga-bunga masa remaja, bukan cinta ... hahaha) Dan saya bersyukur, ternyata saya bisa mencintai sedalam itu, saya sendiri tidak menduganya. More of him … saya belajar dan mengalami banyak hal bersama dia. Dia yang dulu membangkitkan semangat saya buat sekolah lagi, dia yang mengajari saya pernak-pernik tentang investasi, stttt, karena patah hati pula, saya punya rumah. My little sweet home in Cibinong :p
3. Tentang seseorang yang sempat dekat itu ,hmmm, ternyata walaupun singkat, tapi sempat memukul saya. Tapi sudahlah, ternyata saya juga masih bisa bersyukur untuk pengalaman tersebut. Banyak hal kecil yang tampaknya simple dan sederhana yang saya dapatkan dari sosok yang satu ini, salah satunya adalah kembalinya kepercayaan diri saya, saya juga belajar melupakan orang yang pernah menyita hati, dan belajar jatuh cinta lagi. Bisa dibilang, kalau yang saya sebutkan sebelumnya membuat hidup saya berwarna, yang ini mencampurkan semua warna tersebut, menjadi warna yang lebih menarik mungkin yaa ...
Jadi, setelah saya sempat kehabisan tenaga untuk marah, menangis, dan mengumpat, akhirnya saya sampai pada titik di mana saya tidak bisa apa-apa selain diam. Ada kekuatan lain di luar diri saya. Ketika saya sudah mencoba sebaik mungkin, tapi ternyata ‘itu bukan kehendakNya’, apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya bisa menerima kenyataan, lain tidak. Saya mencoba bersyukur, atas semua yang terjadi. Yang penting, saya selalu mencoba melakukan yang terbaik. Bahkan, sekarang pun bukan berarti saya sudah berhasil 100 %, saya masih mencoba, dan terus mencoba.
Jadi, buat teman berbincang saya tadi, hmm, selamat mencoba bersyukur, pasti akan jatuh bangun, tapi kamu tidak sendirian. Saya, dan banyak teman lain juga demikian. Jatuh bangun dengan cerita manis dan pahit yang tentu berbeda, tapi kemudian berusaha bangkit lagi dengan semangat yang sama, semangat untuk mencoba mencari jawaban atas hidup ini ;)
Comments