Satu weekend lewat lagi. Belakangan waktu rasanya cepat sekali berjalan. Pekerjaan yang bertumpuk, membuat weekend menjadi waktu yang berharga, walaupun sekedar untuk bersantai di kamar kost, atau bercanda bersama sepupu-sepupu di Matraman.
Demikian juga weekend ini, kami makan-makan di Matraman. Salah satu yang hadir namanya Ditya, tetangga baik yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ditya, cowok gendut yang baru lulus SMP, bayangkan, beratnya 93 kg, dengan tinggi yang saya yakin hanya 160 sekian ... Masih aleman dan kolokan, tapi tahun ini dia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Gonzaga.
Malam itu kami menggodanya, perihal kewajiban-kewajiban seperti mencuci dan menyetrika, dan juga larangan untuk ditengok selama tiga bulan pertama.
"Gimana tuh kalau tiga bulan nggak boleh ditengok, kamu nggak kangen sama Mama :p? Ntar kamu nangis ... " *hehehe ... ada empat orang yang tiba2 muncul tanduk di kepalanya*
Terus dengan lugunya si Ditya membuat kami ngakak dengan jawabannya,
"Kan ada momennya, nangis bareng ... " hahaha ....
Lalu kami menimpali lagi,
"Katanya dah punya cewek ... Cewek kamu nangis dong waktu kamu bilang kamu mau masuk seminari ... "
"Enggak ..."
"Nggak salah, huehehehe ..."
Ditya, Ditya, anak sekecil itu punya keberanian untuk mencoba hidup di Seminari Menengah, jauh dari mama papanya. Sukses ya Dit, mencoba belajar hidup mandiri di seminari ... semoga suatu saat kamu bisa jadi pastor yang baik *duh jauh banget yah, baru juga lulus SMP* ...
Demikian juga weekend ini, kami makan-makan di Matraman. Salah satu yang hadir namanya Ditya, tetangga baik yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ditya, cowok gendut yang baru lulus SMP, bayangkan, beratnya 93 kg, dengan tinggi yang saya yakin hanya 160 sekian ... Masih aleman dan kolokan, tapi tahun ini dia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Gonzaga.
Malam itu kami menggodanya, perihal kewajiban-kewajiban seperti mencuci dan menyetrika, dan juga larangan untuk ditengok selama tiga bulan pertama.
"Gimana tuh kalau tiga bulan nggak boleh ditengok, kamu nggak kangen sama Mama :p? Ntar kamu nangis ... " *hehehe ... ada empat orang yang tiba2 muncul tanduk di kepalanya*
Terus dengan lugunya si Ditya membuat kami ngakak dengan jawabannya,
"Kan ada momennya, nangis bareng ... " hahaha ....
Lalu kami menimpali lagi,
"Katanya dah punya cewek ... Cewek kamu nangis dong waktu kamu bilang kamu mau masuk seminari ... "
"Enggak ..."
"Nggak salah, huehehehe ..."
Ditya, Ditya, anak sekecil itu punya keberanian untuk mencoba hidup di Seminari Menengah, jauh dari mama papanya. Sukses ya Dit, mencoba belajar hidup mandiri di seminari ... semoga suatu saat kamu bisa jadi pastor yang baik *duh jauh banget yah, baru juga lulus SMP* ...
Comments