Bandung, 1998. Beberapa anak muda sedang berbenah di rumah kosong itu. Mereka hendak menyelenggarakan pertemuan antara beberapa kelompok kaderisasi mahasiswa (waktu itu idealisme masih membara :). Di antara beberapa panitia, saya yang paling yunior. Kami sedang menunggu beberapa peserta yang belum datang, ketika seorang cewek tomboy berambut cepak datang membawa tas ransel besar. Seperti mau turun gunung saja, batin saya waktu itu. Cewek itu mengenalkan diri sebagai wakil dari Mudika Jatinangor.
Mendengar Mudika Jatinangor disebut, saya langsung menoleh dari kesibukan beres-beres. “Dewi ya ?”, tebak saya ketika menyapa cewek itu. “Mita ya ?”, balasnya hangat, menyambut saya dengan tawa dan cengirannya. Dalam waktu 5 menit kami seperti dua orang teman lama yang bertemu lagi. Tiba-tiba Sigit menyela pembicaraan hangat itu, “Kalian teman SMA ?”, dan kami berdua terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu.
Itu perkenalan pertama saya dengan Dewi, seorang sahabat yang kemudian menjadi teman serumah di Bandung. Sebelum pertemuan itu saya hanya kenal namanya dari cerita Ninit, teman serumah saya yang juga ngekost di Jatinangor (dia punya 2 kost sekaligus hahaha!). Dia sering bercerita tentang teman kostnya di Jatinangor, yang ia deskripsikan mirip saya, jarang di rumah, selalu sibuk dengan kegiatan ini itu, bahkan menjadi ketua Mudika Jatinangor. Rupanya Ninit juga bercerita tentang saya kepada Dewi. Perkenalan itu kemudian menjadi persahabatan ketika kami banyak terlibat dalam kegiatan yang sama, apalagi kemudian dia menjadi teman serumah, penghuni kamar sebelah.
Dewi yang saya kenal ternyata tidak tomboy seperti kesan pertama. Kesan yang sangat berbeda akan kita dapatkan kalau kita masuk ke kamarnya di rumah biru itu. Sebuah kamar yang nyaman karena penataan yang sangat ramah. Dindingnya penuh dengan foto, mulai dari foto-foto keluarga, foto teman-teman, dan foto-foto hasil bidikannya. Hiasan bunga kering dan aroma teraphy yang sering dipasang memancarkan keramahan pemiliknya. Kamar itu, menjadi favorit banyak orang untuk berkumpul dan mengobrol sampai malam buta. Membahas berbagai hal, mulai dari topik-topik serius masalah keberpihakan sampai yang paling santai seperti temuan makanan favorit terbaru.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun sejak perkenalan pertama itu, dengan segala kesibukan kami masing-masing, pertemanan dengan sosok ini selalu menjadi charger saya ketika batere semangat saya mulai lemah. Dewi memang cocok dengan pilihan profesinya sebagai psikolog. It’s her gift. Semoga itu tetap ada dan menyala ya Wi. Selamat ulang tahun :) !
Mendengar Mudika Jatinangor disebut, saya langsung menoleh dari kesibukan beres-beres. “Dewi ya ?”, tebak saya ketika menyapa cewek itu. “Mita ya ?”, balasnya hangat, menyambut saya dengan tawa dan cengirannya. Dalam waktu 5 menit kami seperti dua orang teman lama yang bertemu lagi. Tiba-tiba Sigit menyela pembicaraan hangat itu, “Kalian teman SMA ?”, dan kami berdua terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu.
Itu perkenalan pertama saya dengan Dewi, seorang sahabat yang kemudian menjadi teman serumah di Bandung. Sebelum pertemuan itu saya hanya kenal namanya dari cerita Ninit, teman serumah saya yang juga ngekost di Jatinangor (dia punya 2 kost sekaligus hahaha!). Dia sering bercerita tentang teman kostnya di Jatinangor, yang ia deskripsikan mirip saya, jarang di rumah, selalu sibuk dengan kegiatan ini itu, bahkan menjadi ketua Mudika Jatinangor. Rupanya Ninit juga bercerita tentang saya kepada Dewi. Perkenalan itu kemudian menjadi persahabatan ketika kami banyak terlibat dalam kegiatan yang sama, apalagi kemudian dia menjadi teman serumah, penghuni kamar sebelah.
Dewi yang saya kenal ternyata tidak tomboy seperti kesan pertama. Kesan yang sangat berbeda akan kita dapatkan kalau kita masuk ke kamarnya di rumah biru itu. Sebuah kamar yang nyaman karena penataan yang sangat ramah. Dindingnya penuh dengan foto, mulai dari foto-foto keluarga, foto teman-teman, dan foto-foto hasil bidikannya. Hiasan bunga kering dan aroma teraphy yang sering dipasang memancarkan keramahan pemiliknya. Kamar itu, menjadi favorit banyak orang untuk berkumpul dan mengobrol sampai malam buta. Membahas berbagai hal, mulai dari topik-topik serius masalah keberpihakan sampai yang paling santai seperti temuan makanan favorit terbaru.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun sejak perkenalan pertama itu, dengan segala kesibukan kami masing-masing, pertemanan dengan sosok ini selalu menjadi charger saya ketika batere semangat saya mulai lemah. Dewi memang cocok dengan pilihan profesinya sebagai psikolog. It’s her gift. Semoga itu tetap ada dan menyala ya Wi. Selamat ulang tahun :) !
Comments