Kemaren aku ngebayangin tamasya virtual ke Prancis, dengan nonton festival film prancis. Udah kebayang asiknya nonton film prancis kayak taxi 1,2,3, atau at least kayak amelie lah. Eh, taunya tamasya virtualnya ke Bangladesh :((
Hiks, ternyata filmnya kemaren tentang kehidupan di Bangladesh, judulnya Chittagong. Walaupun aku enggak ngerti -- Filmnya sendiri pake bahasa inggris, tapi ada dialog2 dalam bahasa Bangladesh nya (apa ya bahasa yang dipake di Bangladesh? Hindi?), dan subtitle nya tidak membantu sama sekali, bahasa prancis. :((( Wah, nangis darah deh mencoba mengerti jalan ceritanya gimana -- tapi film ini unforgettable. Menggambarkan hidup yang sangat gelap, suram dan tragis.
Setting cerita adalah Bangladesh, dengan segala kekumuhannya. Kota yang kumuh dan sesak, sarana transportasi yang sangat memilukan, penduduk yang miskin, etc. Kalau kamu pernah naik KRL ekonomi Jabotabek. Yah, kira2 suasananya seperti itu. Ditambah lagi dengan perahu2 yang penuh sesak. Wah, jauh lebih parah daripada Indonesia.
Singkat cerita begini ... Ada seorang kapten kapal berkebangsaan Perancis, namanya Paul. Dia mengadakan perjalanan ke Bangladesh untuk ketemu seseorang. Dalam perjalanan itu dia bermasalah(gak jelas deh masalahnya apa), tiba2 dia dijebloskan ke sel, dan paspor nya disita. Lalu dia pergi ke salah satu daerah di Bangladesh. Dalam perjalannnya, ia bertemu seorang anak kecil bernama Moti, yang bersama ibunya, Fatima, sedang dalam perjalanan pulang ke desa kelahiran ayahnya. Ayah Moti meninggal beberapa bulan sebelumnya, sedangkan Fatima sedang mengandung adik Moti. Dalam perjalanan dengan kapal (yang sangat reyot, kumuh, dan penuh sesak dengan penumpang -- seperti kapal2 manusia perahu Vietnam), Fatima keguguran. Di situ diperlihatkan betapa kesakitannya Fatima. Bejana yang penuh dengan darah yang keluar dari kandungannya sungguh mencekam.
Paul kemudian memutuskan untuk mengikuti Moti dan Fatima pergi ke desanya. Desa tersebut benar2 desa! Miskin, terbelakang, pola pikir yang masih primitif, dan selalu tergenang banjir pada saat monsoon tiba.
Singkat kata, Fatima kehilangan segalanya. Tanah peninggalan suaminya dicaplok orang, she has nothing. Dan ketika monsoon tiba, banjir menghempaskan desa itu. Dan seperti film Hollywood, it's a happy ending when finally Paul take Fatima and Moti away from the country.
Film yang susah dimengerti inti ceritanya, tapi sangat unforgettable, karena mengingatkan kita akan kesuraman yang terjadi di sekitar kita.
Hiks, ternyata filmnya kemaren tentang kehidupan di Bangladesh, judulnya Chittagong. Walaupun aku enggak ngerti -- Filmnya sendiri pake bahasa inggris, tapi ada dialog2 dalam bahasa Bangladesh nya (apa ya bahasa yang dipake di Bangladesh? Hindi?), dan subtitle nya tidak membantu sama sekali, bahasa prancis. :((( Wah, nangis darah deh mencoba mengerti jalan ceritanya gimana -- tapi film ini unforgettable. Menggambarkan hidup yang sangat gelap, suram dan tragis.
Setting cerita adalah Bangladesh, dengan segala kekumuhannya. Kota yang kumuh dan sesak, sarana transportasi yang sangat memilukan, penduduk yang miskin, etc. Kalau kamu pernah naik KRL ekonomi Jabotabek. Yah, kira2 suasananya seperti itu. Ditambah lagi dengan perahu2 yang penuh sesak. Wah, jauh lebih parah daripada Indonesia.
Singkat cerita begini ... Ada seorang kapten kapal berkebangsaan Perancis, namanya Paul. Dia mengadakan perjalanan ke Bangladesh untuk ketemu seseorang. Dalam perjalanan itu dia bermasalah(gak jelas deh masalahnya apa), tiba2 dia dijebloskan ke sel, dan paspor nya disita. Lalu dia pergi ke salah satu daerah di Bangladesh. Dalam perjalannnya, ia bertemu seorang anak kecil bernama Moti, yang bersama ibunya, Fatima, sedang dalam perjalanan pulang ke desa kelahiran ayahnya. Ayah Moti meninggal beberapa bulan sebelumnya, sedangkan Fatima sedang mengandung adik Moti. Dalam perjalanan dengan kapal (yang sangat reyot, kumuh, dan penuh sesak dengan penumpang -- seperti kapal2 manusia perahu Vietnam), Fatima keguguran. Di situ diperlihatkan betapa kesakitannya Fatima. Bejana yang penuh dengan darah yang keluar dari kandungannya sungguh mencekam.
Paul kemudian memutuskan untuk mengikuti Moti dan Fatima pergi ke desanya. Desa tersebut benar2 desa! Miskin, terbelakang, pola pikir yang masih primitif, dan selalu tergenang banjir pada saat monsoon tiba.
Singkat kata, Fatima kehilangan segalanya. Tanah peninggalan suaminya dicaplok orang, she has nothing. Dan ketika monsoon tiba, banjir menghempaskan desa itu. Dan seperti film Hollywood, it's a happy ending when finally Paul take Fatima and Moti away from the country.
Film yang susah dimengerti inti ceritanya, tapi sangat unforgettable, karena mengingatkan kita akan kesuraman yang terjadi di sekitar kita.
Comments