Hari minggu yll aku ikut copy darat sama rekan2 sebuah community di Gereja Theresia yang aku sedang jajakin, kali2 bisa aktif di sana. Komunitas ini di-moderatori sama seorang ex pastor.
Kemaren minggu, untuk pertama kalinya aku ketemu lagi dengan si Romo setelah dia lepas jubah. Ngedengerin sharing dia tentang pengalamannya setelah melepas jubah, miris juga dengernya. Dia cerita gimana dia harus berusaha mendapatkan pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Keadaan kayaknya berbalik banget. Dia tadinya Romo, SJ pula. Walaupun Romo2 itu memegang kaul kemiskinan, namun pada prakteknya dia 'nggak mungkin miskin'. Segala kebutuhan hidup terpenuhi, tiap bulan selalu dikasih uang saku sama tarekatnya (yang sudah pasti amat sangat cukup), punya kedudukan yang dihormati oleh umat, sering dikasih hadiah sama umat, well, yang pasti taraf hidupnya lebih bagus dari pekerja2 muda di jakarta ini lah :) Setelah dia lepas jubah, kedudukan itu lepas. Yupe, it's all about consequences. Nggak ada lagi biaya hidup dari tarekat, which means dia harus kerja.
Kebayang nggak sih susahnya cari kerja buat orang yang hampir kepala 5, dengan pengalaman kerja di 'dunia nyata' mungkin almost zero? Kita, much younger people, sering setres ngerasain susahnya cari kerja. What about him? Dia bilang dia sempat stress mengalami penolakan2 itu. Bahkan ada suatu kondisi ekstrem di mana dia dapet kerjaan jadi sales, dia harus jualan di lingkungan suatu gereja yang orang2 nya mengenal dia. Kalau dulu dia di posisi mereka yang dengan gampangnya menolak salesman2 itu, sekarang dia jadi salesman.
Sebenernya, kalau mau jujur, dalam hati aku sempat bilang "Welcome to the real world Romo!" tapi kayaknya terlalu sadis untuk diucapkan ya :) Sekarang katanya masa2 sulit itu sudah berlalu. Dia udah punya sesuatu yang bisa dipegang untuk hidupnya, dan itu punya konsekuensi lain yang harus dijalankan. Bos nya enggak suka kalau si Romo masih aktif memoderatori milis komunitas bentukannya. Well, that's understandable, semua orang perlu beradaptasi, demikian pula Romo kita ini. Dan itu lah yang sekarang dikerjakannya, berusaha beradaptasi di dunia nyata ini.
Si Romo sempat berujar, "Di luar biara lebih gampang untuk nolongin orang, nggak kayak di biara, terlalu banyak birokrasi ... " OK deh kalo gitu, kita tunggu karya2 Romo selanjutnya, di dunia nyata ini :) OK, sekali lagi, welcome to the real world Romo, I know you will survive :) ...
Kemaren minggu, untuk pertama kalinya aku ketemu lagi dengan si Romo setelah dia lepas jubah. Ngedengerin sharing dia tentang pengalamannya setelah melepas jubah, miris juga dengernya. Dia cerita gimana dia harus berusaha mendapatkan pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Keadaan kayaknya berbalik banget. Dia tadinya Romo, SJ pula. Walaupun Romo2 itu memegang kaul kemiskinan, namun pada prakteknya dia 'nggak mungkin miskin'. Segala kebutuhan hidup terpenuhi, tiap bulan selalu dikasih uang saku sama tarekatnya (yang sudah pasti amat sangat cukup), punya kedudukan yang dihormati oleh umat, sering dikasih hadiah sama umat, well, yang pasti taraf hidupnya lebih bagus dari pekerja2 muda di jakarta ini lah :) Setelah dia lepas jubah, kedudukan itu lepas. Yupe, it's all about consequences. Nggak ada lagi biaya hidup dari tarekat, which means dia harus kerja.
Kebayang nggak sih susahnya cari kerja buat orang yang hampir kepala 5, dengan pengalaman kerja di 'dunia nyata' mungkin almost zero? Kita, much younger people, sering setres ngerasain susahnya cari kerja. What about him? Dia bilang dia sempat stress mengalami penolakan2 itu. Bahkan ada suatu kondisi ekstrem di mana dia dapet kerjaan jadi sales, dia harus jualan di lingkungan suatu gereja yang orang2 nya mengenal dia. Kalau dulu dia di posisi mereka yang dengan gampangnya menolak salesman2 itu, sekarang dia jadi salesman.
Sebenernya, kalau mau jujur, dalam hati aku sempat bilang "Welcome to the real world Romo!" tapi kayaknya terlalu sadis untuk diucapkan ya :) Sekarang katanya masa2 sulit itu sudah berlalu. Dia udah punya sesuatu yang bisa dipegang untuk hidupnya, dan itu punya konsekuensi lain yang harus dijalankan. Bos nya enggak suka kalau si Romo masih aktif memoderatori milis komunitas bentukannya. Well, that's understandable, semua orang perlu beradaptasi, demikian pula Romo kita ini. Dan itu lah yang sekarang dikerjakannya, berusaha beradaptasi di dunia nyata ini.
Si Romo sempat berujar, "Di luar biara lebih gampang untuk nolongin orang, nggak kayak di biara, terlalu banyak birokrasi ... " OK deh kalo gitu, kita tunggu karya2 Romo selanjutnya, di dunia nyata ini :) OK, sekali lagi, welcome to the real world Romo, I know you will survive :) ...
Comments