Hari ini praktis adalah hari terakhir liburan paskah-ku. Dengan kesibukan menemani tanteku di rumah sakit dan beberapa ibadat tri hari suci di gereja, maka liburan kali ini seperti bukan libur saja … anyway, karena ini hari terakhir ku di rumah, aku ingin sedikit lebih bersantai dari kemarin. Toh sepupu-sepupuku sudah datang untuk menemani tanteku.
Jadi sekarang, aku bisa sedikit menulis untuk menyalurkan perasaan senang, sedih, capek, dan emosi-emosi lainnya seperti biasanya. Ahhh, nikmatnya … selonjoran di kamar sambil menikmati celoteh burung-burung liar – burung gereja mungkin, menikmati sisa sensasi mandi air panas untuk memanjakan diri. Jangan kira mandi air panasnya pakai keran mewah atau heater seperti di hotel-hotel. Teteeep aja, sebelum mandi harus merebus air dulu secara manual, hehehe … tapi rasanya tetap mewah, at least buatku … :)
Tidak seperti biasanya pekan paskah kali ini tidak kurayakan di Gereja Kalasan seperti biasanya. Terus terang, aku sedang malas ke Gereja, terlalu banyak ritual yang tidak dapat kuhayati maknanya . Hati ku tidak terlalu tergerak, dan bahkan ada unsur formalitas ketika aku datang pada perayaan beberapa hari ini. Maka aku memilih Gereja Kotabaru, yang menurutku tidak terlalu banyak ritual (baca: misanya lebih singkat dan aku bisa memakai blue jeans dan kaos tanpa perlu merasa rikuh dan tidak nyaman … hehehe).
Menurut seorang teman, ekaristi adalah sarana persekutuan umat, walaupun sebenarnya kami berdua berpendapat bahwa makna tersebut sudah bergeser, banyak yang ke gereja hanya sekedar untuk pelarian, mencari pembenaran, atas segala peristiwa yang dialaminya. Itulah mengapa beberapa hari ini aku begitu bosan dengan segala ritual, mulai dari keharusan untuk berpantang dan berpuasa di hari Jumat Agung (kalau sedang mudik efeknya sangat terasa, jangan harap aku bisa menemukan makanan untuk sarapan ketika aku membuka lemari makan :p, jadi aku memilih untuk pergi pagi-pagi mencari sarapan gudeg Bu Amat dan menghindari omelan mamaku :), sampai ke upacara-upacara yang bisa memakan waktu lebih dari 2 jam itu.
Untunglah suasana Paskah tadi malam tidak se-ritual yang aku bayangkan sebelumnya. Hujan deras mengguyur kota Jogja, dengan BMW (bebek merah warnanya), aku sampai Gereja dalam keadaan setengah basah. Seperti biasanya umat sudah memadati Gereja Kotabaru, jadi aku cukup pasrah mendapatkan tempat di tenda pelataran Gereja, yang penting tidak kena hujan. Hujan deras itu seolah mencairkan semua formalitas religius misa malam paskah. Ributnya suara hujan (apalagi kami dinaungi atap dari seng), tenda-tenda yang bocor, dan air yang mulai menggenang di sela-sela kursi bukannya mengganggu aku, justru membuat aku merasa nyaman karena tidak harus terlalu terpaku pada khotbah pastor yang panjang lebar … lebih baik aku menyanyi keras-keras supaya suara hujan dapat dikalahkan … hahaha.
Itulah paskah ku kali ini, jauh dari ritual yang ribet-ribet. Meskipun demikian, ini ada petikan lagu dari teks misa. Lagunya bagus, bisa dihayati tanpa semua ritual yang ribet itu …
Salib Kayu Agung
Di kayu salib Engkau tergantung, hening tunduk hati kami termenung.
Karena dosa kami yang tak terhitung Kaurela mati di kayu salib agung.
Lihatlah Dia yang di sana tertambat menunggumu bertobat sebelum terlambat.
Biarlah Dia mengubah hatimu yang jahat agar hidupmu selamat dan penuh rahmat.
Datanglah padaNya yang mati tergantung. Datanglah padaNya karma cintaNya agung. Dialah tempat kita slalu berlindung, bagiNya kita senandungkan kidung.
Jadi sekarang, aku bisa sedikit menulis untuk menyalurkan perasaan senang, sedih, capek, dan emosi-emosi lainnya seperti biasanya. Ahhh, nikmatnya … selonjoran di kamar sambil menikmati celoteh burung-burung liar – burung gereja mungkin, menikmati sisa sensasi mandi air panas untuk memanjakan diri. Jangan kira mandi air panasnya pakai keran mewah atau heater seperti di hotel-hotel. Teteeep aja, sebelum mandi harus merebus air dulu secara manual, hehehe … tapi rasanya tetap mewah, at least buatku … :)
Tidak seperti biasanya pekan paskah kali ini tidak kurayakan di Gereja Kalasan seperti biasanya. Terus terang, aku sedang malas ke Gereja, terlalu banyak ritual yang tidak dapat kuhayati maknanya . Hati ku tidak terlalu tergerak, dan bahkan ada unsur formalitas ketika aku datang pada perayaan beberapa hari ini. Maka aku memilih Gereja Kotabaru, yang menurutku tidak terlalu banyak ritual (baca: misanya lebih singkat dan aku bisa memakai blue jeans dan kaos tanpa perlu merasa rikuh dan tidak nyaman … hehehe).
Menurut seorang teman, ekaristi adalah sarana persekutuan umat, walaupun sebenarnya kami berdua berpendapat bahwa makna tersebut sudah bergeser, banyak yang ke gereja hanya sekedar untuk pelarian, mencari pembenaran, atas segala peristiwa yang dialaminya. Itulah mengapa beberapa hari ini aku begitu bosan dengan segala ritual, mulai dari keharusan untuk berpantang dan berpuasa di hari Jumat Agung (kalau sedang mudik efeknya sangat terasa, jangan harap aku bisa menemukan makanan untuk sarapan ketika aku membuka lemari makan :p, jadi aku memilih untuk pergi pagi-pagi mencari sarapan gudeg Bu Amat dan menghindari omelan mamaku :), sampai ke upacara-upacara yang bisa memakan waktu lebih dari 2 jam itu.
Untunglah suasana Paskah tadi malam tidak se-ritual yang aku bayangkan sebelumnya. Hujan deras mengguyur kota Jogja, dengan BMW (bebek merah warnanya), aku sampai Gereja dalam keadaan setengah basah. Seperti biasanya umat sudah memadati Gereja Kotabaru, jadi aku cukup pasrah mendapatkan tempat di tenda pelataran Gereja, yang penting tidak kena hujan. Hujan deras itu seolah mencairkan semua formalitas religius misa malam paskah. Ributnya suara hujan (apalagi kami dinaungi atap dari seng), tenda-tenda yang bocor, dan air yang mulai menggenang di sela-sela kursi bukannya mengganggu aku, justru membuat aku merasa nyaman karena tidak harus terlalu terpaku pada khotbah pastor yang panjang lebar … lebih baik aku menyanyi keras-keras supaya suara hujan dapat dikalahkan … hahaha.
Itulah paskah ku kali ini, jauh dari ritual yang ribet-ribet. Meskipun demikian, ini ada petikan lagu dari teks misa. Lagunya bagus, bisa dihayati tanpa semua ritual yang ribet itu …
Salib Kayu Agung
Di kayu salib Engkau tergantung, hening tunduk hati kami termenung.
Karena dosa kami yang tak terhitung Kaurela mati di kayu salib agung.
Lihatlah Dia yang di sana tertambat menunggumu bertobat sebelum terlambat.
Biarlah Dia mengubah hatimu yang jahat agar hidupmu selamat dan penuh rahmat.
Datanglah padaNya yang mati tergantung. Datanglah padaNya karma cintaNya agung. Dialah tempat kita slalu berlindung, bagiNya kita senandungkan kidung.
Comments