Skip to main content

Easter 2005

Hari ini praktis adalah hari terakhir liburan paskah-ku. Dengan kesibukan menemani tanteku di rumah sakit dan beberapa ibadat tri hari suci di gereja, maka liburan kali ini seperti bukan libur saja … anyway, karena ini hari terakhir ku di rumah, aku ingin sedikit lebih bersantai dari kemarin. Toh sepupu-sepupuku sudah datang untuk menemani tanteku.

Jadi sekarang, aku bisa sedikit menulis untuk menyalurkan perasaan senang, sedih, capek, dan emosi-emosi lainnya seperti biasanya. Ahhh, nikmatnya … selonjoran di kamar sambil menikmati celoteh burung-burung liar – burung gereja mungkin, menikmati sisa sensasi mandi air panas untuk memanjakan diri. Jangan kira mandi air panasnya pakai keran mewah atau heater seperti di hotel-hotel. Teteeep aja, sebelum mandi harus merebus air dulu secara manual, hehehe … tapi rasanya tetap mewah, at least buatku … :)

Tidak seperti biasanya pekan paskah kali ini tidak kurayakan di Gereja Kalasan seperti biasanya. Terus terang, aku sedang malas ke Gereja, terlalu banyak ritual yang tidak dapat kuhayati maknanya . Hati ku tidak terlalu tergerak, dan bahkan ada unsur formalitas ketika aku datang pada perayaan beberapa hari ini. Maka aku memilih Gereja Kotabaru, yang menurutku tidak terlalu banyak ritual (baca: misanya lebih singkat dan aku bisa memakai blue jeans dan kaos tanpa perlu merasa rikuh dan tidak nyaman … hehehe).

Menurut seorang teman, ekaristi adalah sarana persekutuan umat, walaupun sebenarnya kami berdua berpendapat bahwa makna tersebut sudah bergeser, banyak yang ke gereja hanya sekedar untuk pelarian, mencari pembenaran, atas segala peristiwa yang dialaminya. Itulah mengapa beberapa hari ini aku begitu bosan dengan segala ritual, mulai dari keharusan untuk berpantang dan berpuasa di hari Jumat Agung (kalau sedang mudik efeknya sangat terasa, jangan harap aku bisa menemukan makanan untuk sarapan ketika aku membuka lemari makan :p, jadi aku memilih untuk pergi pagi-pagi mencari sarapan gudeg Bu Amat dan menghindari omelan mamaku :), sampai ke upacara-upacara yang bisa memakan waktu lebih dari 2 jam itu.



Untunglah suasana Paskah tadi malam tidak se-ritual yang aku bayangkan sebelumnya. Hujan deras mengguyur kota Jogja, dengan BMW (bebek merah warnanya), aku sampai Gereja dalam keadaan setengah basah. Seperti biasanya umat sudah memadati Gereja Kotabaru, jadi aku cukup pasrah mendapatkan tempat di tenda pelataran Gereja, yang penting tidak kena hujan. Hujan deras itu seolah mencairkan semua formalitas religius misa malam paskah. Ributnya suara hujan (apalagi kami dinaungi atap dari seng), tenda-tenda yang bocor, dan air yang mulai menggenang di sela-sela kursi bukannya mengganggu aku, justru membuat aku merasa nyaman karena tidak harus terlalu terpaku pada khotbah pastor yang panjang lebar … lebih baik aku menyanyi keras-keras supaya suara hujan dapat dikalahkan … hahaha.
Itulah paskah ku kali ini, jauh dari ritual yang ribet-ribet. Meskipun demikian, ini ada petikan lagu dari teks misa. Lagunya bagus, bisa dihayati tanpa semua ritual yang ribet itu …


Salib Kayu Agung

Di kayu salib Engkau tergantung, hening tunduk hati kami termenung.
Karena dosa kami yang tak terhitung Kaurela mati di kayu salib agung.
Lihatlah Dia yang di sana tertambat menunggumu bertobat sebelum terlambat.
Biarlah Dia mengubah hatimu yang jahat agar hidupmu selamat dan penuh rahmat.
Datanglah padaNya yang mati tergantung. Datanglah padaNya karma cintaNya agung. Dialah tempat kita slalu berlindung, bagiNya kita senandungkan kidung.

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...