Skip to main content

Posts

Prinsip dan Dasar

Dah lama tidak posting. Ini ada petikan yang saya temukan di antara dokumen saya. Dulu, beberapa teman sering mengingatkan saya tentang petikan ini, sudah lama sekali rasanya. Saya tulis saja di sini, supaya saya kembali ingat ... PRINSIP DAN DASAR • Manusia diciptakan untuk memuji, menghormat, dan mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan demikian menjadi selamat. • Segala sesuatu yang lain di atas bumi diciptakan untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan itu. • Jadi, manusia harus memakai segala ciptaan sejauh menolongnya dalam mencapai tujuan itu, dan harus membuang segala ciptaan sejauh menghalanginya dalam mencapai tujuan itu. • Maka kita harus aktif berusaha untuk menjadikan diri kita bersikap lepas babas terhadap segala ciptaan, sejauh halnya terletak dalam kebebasan kita, dan sejauh tidak terlarang. Konsekuensinya adalah sejauh tergantung dari kita, kita tidak lebih menginginkan dan lebih memilih : kesehatan daripada sakit, kekayaan daripada kemiskinan, kehormatan daripada kehin...

Hidup makin susah di Jakarta

Keluar dari halte busway siang itu, saya disambut kesemrawutan lalu lintas di sekitar Stasiun Kota. Kalian tentu bisa membayangkan suasana yang terjadi tiap hari tersebut. Angkot-angkot yang ngetem, manusia yang lalu lalang, suara-suara klakson mobil yang saling berteriak, dan panas terik matahari. Menggambarkannya saja membuat saya berkeringat dan kehausan, hahaha. Cepat-cepat saya menyeberang dan masuk ke salah satu angkot. Seorang bule tiba-tiba menyeberang ke segitiga di tengah jalan yang ramai itu, mengeluarkan kameranya, dan membidik kesemrawutan tersebut sebagai objeknya. Saya sibuk mengira-ngira apa yang ada di pikirannya. Objek apa yang menarik perhatiannya, kesemrawutan ini kah? Mungkin ketika orang itu pulang ke negaranya, dia akan menunjukkan foto itu ke teman-temannya dan berkata : “Lihat, ini kesemrawutan di sebuah negara dunia ketiga, Indonesia. Negara yang katanya penghasil minyak bumi, tapi justru sedang terpukul perekonomiannya karena kenaikan harga minyak dunia. Nega...

Emosi-emosi yang membahagiakan

Beberapa hari ini saya banyak dikelilingi oleh emosi-emosi yang membahagiakan dari orang-orang di sekeliling saya. Walaupun bisa dikatakan tak ada yang berhubungan langsung dengan saya, kebahagiaan itu menular, menghinggapi diri saya :) Dimulai dengan kejutan kecil yang saya dapatkan dari sahabat saya (lihat posting saya sebelumnya ;), kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus bermunculan pada diri orang-orang yang saya sayangi. Tebak apa yang membuat saya tertular berbahagia ? Karena mereka menyertakan diri saya dalam kebahagiaan itu. Kemanusiaan saya, tak bisa saya pungkiri, membuat saya pun kadang ingin diperhatikan, disayangi, dan merasa dibutuhkan. Sangat manusiawi bukan? Seorang teman menuturkan kebahagiaan yang dirasakannya, ketika ia mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa berbahagia karena ternyata orang-orang itu masih mengingat dirinya. Memang betul apa yang dikatakannya, tapi sudah saya katakan, kebahagiaan itu seperti virus yang cepat me...

My best friend's lifetime decision

Kemaren siang HP saya tiba2 berbunyi, sebuah pesan masuk: “I am getting married next year. Awal tahun depan keluarga kami berkenalan secara resmi. Minggu kemarin kami bertemu dengan orang tuaku dan orang tuanya. Tahun depan aku pindah ke Jogja mengikuti suamiku”. Heh, it’s like a dejavu. Baru sehari sebelumnya saya blogwalking ke salah satu blog favorit saya *as a silent reader :) *, ceritanya tentang seorang teman yang tiba-tiba memutuskan untuk menikah karena ingin sebuah kehidupan yang simpel dan indah seperti di fairy tale, tiba-tiba saja hal yang sama terjadi dalam kehidupan sahabat saya. “Heh, what ??!! “ cuma itu yang bisa saya tulis dalam reply kepada nya. Buru-buru saya mengkoreksinya, jemari saya menekan angka – angka itu. 0817xxx … dialing … “Halo, eh Mit, barusan aku terima sms mu, baru aku mau balas, kamu sudah telpon.” “Hei, Non, are you serious?” “Iya Mit, I am serious … I know that it is shocking, yes, it shocks everybody …” “Aku ingat beberapa minggu yang lalu kamu sm...

Bali bombing II - Belasungkawa

Sekali lagi orang-orang gila itu meledakkan bom di Bali, dan kembali lagi orang-orang yang tidak tahu menahu menjadi korbannya. Seorang teman, tadi memasang status ini di YM nya : “Terlalu sedikit kesadaran, terlalu sedikit cinta, terlalu sedikit kebahagiaan, hanya karena terlalu banyak pembicaraan mengenai Tuhan.” Betul yang dikatakannya. Jika ada yang mengatakan bahwa agama membawa orang kepada kebajikan, saya akan bertanya, mana buktinya? Mungkin sekarang Tuhan sedang menangis melihat nama-Nya disalahgunakan.

Ten things I desperately want right now:

Dapat visa US Sepotong cheese cake, ditemani secangkir es cappucinno :) Ketemuan dengan sahabat-sahabat lama, tapi tidak lagi di Jakarta. US or France will do hahaha. Punya kesabaran yang tak terbatas. Honda Jazz Menyelesaikan baca biografinya John Nash – “The Beautiful Mind” – Gak selesai-selesai euy… Vatican and Lourdes with the whole family, ngimpi kali ye :p! Lemari buku yang besar, berwarna biru muda, lengkap dengan kaca, supaya buku-buku di dalamnya tidak kotor dan rusak. Perut rata tanpa susah-susah sit-up, huehehe. The last one, I want to sleep …. Zzzz zzzz zzz …

Sudah cukup

Sudah cukup, saya tidak mau bercengeng-cengeng lagi. Sahabat saya tertawa mendengarnya dan berkata, “Yakin Mit ? Bukannya sudah berkali-kali bilang begitu ?“ Hahaha, memang benar kata-katanya, sudah berkali-kali saya berkata seperti itu dan selalu saja gagal. Sekarang saya mencobanya sekali lagi ;) Berat sekali waktu kemarin saya berkata “TIDAK” untuk sebuah permintaan kecilnya. Tetapi jika saya tidak melakukannya, selamanya dia akan menganggap bahwa saya selalu ada, taken for granted. Saya tidak bisa lagi selalu berkata “OK”, “YA”, untuk permintaannya, sementara ia sering berkata “TIDAK” kepada saya, bahkan di saat saya sangat memerlukan kehadirannya. Dia selalu berkata bahwa dia tidak percaya pada pertemanan. Baginya pertemanan hanya merupakan manifestasi kebutuhan dan kepentingan dua orang individu. Ketika dua individu bertemu, kemudian ternyata mereka punya kesamaan kepentingan, dan mereka bisa saling melengkapi kebutuhan mereka, maka timbullah pertemanan, persahabatan, atau cinta....

Gambaran itu jadi kabur

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah tante saya. Ia punya anak laki-laki yang belum genap satu tahun umurnya. Namanya Karl, seorang anak laki-laki yang lucu – putih, bermata sipit, tapi berambut keriting – perpaduan yang manis hasil peranakan Cina – Jawa, tidak seperti saya yang berat sebelah ;) Om Robert, suami Bu Tari – saya biasa memanggil tante saya dengan panggilan Bu – iseng mencandai saya. “Nggak segera pengen bikin mainan kayak gini Mit :) ?”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Alih-alih ingin menggendong bayi seperti banyak teman sebaya, keinginan yang dulu pernah ada kok seolah menghilang ya. Dulu saya selalu membayangkan, saya akan berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan kecil, bermata belok (seperti mata saya ;), pipi berwarna merah jambu yang tembem dan sehat, berambut pendek ikal, dengan kulit yang lumayan putih, hehehe. Di samping saya berdiri suami saya (wajahnya sih beberapa kali berubah-ubah, tergantung gambaran saat itu, yang menurut saya bakal jadi ...
Hmmm, gara-gara blogwalking ngisi waktu, jadi kangen sama seseorang. Seorang pria cerdas pelahap buku, penyuka puisi dan lagu lama. Unfortunately we are now as closed as a fingertip, as far as two strangers. - Hi there, apa kabar? -

Tes psikiatri

Beberapa hari yang lalu saya membaca pengumuman bahwa saya lolos test psikiatri. Kejadiannya berawal dari beberapa bulan yang lalu, setelah berhasil melewati seleksi awal penerimaan calon pegawai di salah satu institusi pemerintah, saya dipanggil untuk mengikuti test psikiatri. Waduh, ini pengalaman pertama saya ikut test psikiatri. Kayak apa sih test-nya? Selama ini test psikologi yang saya kenal adalah psikotest standard yang biasa diselenggarakan kalau kita melamar pekerjaan. Hiks, ,saya benci psikotest! Apalagi kalau sudah disuruh mengerjakan soal-soal dengan gambar kubus-kubus yang dibolak-balik. Mendingan saya disuruh ngitung soal-soal matematika sebanyak-banyak gambreng! Nah, ternyata test psikiatri jauh berbeda. Buat saya yang males mikir lama-lama, cenderung ngasal dan cuek (kata seorang sahabat, saya jago nembak soal-soal yang jawabannya saya nggak tahu - itu lho, rumus menghitung kancing, hahaha) test psikiatri jauh lebih menyenangkan. Tidak ada kubus-kubus imajiner, tidak a...

Foto pre-wedding

“Eh, si Mite udah pulang kondangan. Gimana kondangannya ?” “Hiks, tadi aku nyampe sana makanannya udah hampir habis. Jadi cuma makan dikit.” “Liat dong souvenirnya …” “Tuh di meja …” “Huahahaha … “ “Lho ?? Kok ketawa ?” “Abis, souvenirnya kalender poto-poto pre-wedding. Temenmu tega deh Mit, kamu disuruh liat tampangnya dia tiap hari selama setaun penuh … “ “Hahaha … bener juga ya, aku harus ngeliat tampang si Mamat setaun penuh. Mungkin dulu dia bercita-cita jadi model, lalu gak kesampaian. Jadi sekarang dia memaksa teman-temannya untuk setaun penuh memajang potonya dia … “ “Sekarang lagi nge-trend ya poto-poto pre-wedding. Dari undangan sampai souvenir, semuanya dihiasin poto pre-wedding” “Ho oh, mending kalo jauhjenik kayak aku ya Mit, lha kalo enggak :p ?” “Hahaha … dasar narcist. Tapi kalo aku married nanti, aku emoh ah majang poto pre-wedding di undangan. Undangan kan pasti dibuang kalo dah gak kepake. Jadi poto kita bakal dibuang-buang sama orang. Kok aku gak tega ya liat potoku...

Bangun

Sambil menyantap sate ayam di Blok S malam itu, saya dan Setio – sahabat saya, berbincang ngalor ngidul tentang business trip – nya seminggu yang lalu ke Manila *thanks buat kaos HRC nya ya :) … * Kami sudah bersahabat sejak awal masa kuliah dulu, tahun 1996 … sudah lama sekali rasanya. Sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan asuransi asing sebagai business analyst, dan dia baru saja mendapat tawaran di perusahaan lain. Obrolan itu membuat saya ingat jatuh bangunnya kami berdua ketika mencari pekerjaan selepas masa kuliah. Dulu sekali, waktu baru saja lulus, kami dan beberapa sahabat yang lain mendapat kesempatan untuk interview di sebuah perusahaan asing untuk ditempatkan di Paris dan Beijing. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya semua lolos, kecuali kami berdua. Tentu saja kami sangat terpukul, sampai-sampai menyempatkan diri bertandang ke sebuah kapel kecil di RS Boromeus untuk berdoa, mungkin lebih tepatnya untuk protes ke Tuhan, padahal Setio bukan penganut Katolik. Waktu i...

Dan saya akan tetap bergulat dengan Tuhan ...

Posting ini terinspirasi dari beberapa blog yang saya kunjungi belakangan... Kemarin iseng-iseng saya berkunjung dari blog satu ke blog lain, mengikuti link-link yang ada di blog-blog itu. Sampai mata saya tertuju ke sini . Baru kali itu saya masuk ke blog tersebut, tapi postingnya langsung 'kena'. Mengapa saya selama ini memandang hidup saya dari satu sisi saja? Seperti mata uang yang punya dua sisi, demikian pula hidup saya. Ada sisi keberhasilan, suka cita, dan kebahagiaan. Di sisi yang lain ada kegagalan dan airmata. Tapi sifat saya yang keras kepala dan tidak pernah puas membuat saya selalu berat sebelah. Mata uang itu tak lagi imbang, keberhasilan dan kebahagiaan yang saya dapatkan tak akan pernah membuat saya puas. Contoh simpel dan sepele adalah scholarship yang saya dapatkan baru-baru ini. Bertahun-tahun saya mencoba mencari beasiswa (saya ingat, beasiswa pertama yang saya coba apply adalah AUSAID thn 2000, waktu saya baru saja lulus), dan tidak ada yang sukses. Sampai...

Di rumah

Aduh ngantuknya, berulang kali saya menguap siang ini, gara2 kereta Taksaka yang terlambat empat jam dari seharusnya *selalu aja cari kambing hitam :D*, sehingga saya baru masuk ke Jakarta tepat pukul delapan pagi. Cepat-cepat cari taksi, pulang ke kost, mandi, dan langsung berangkat ke kantor. Long weekend ini saya habiskan di Jogja. Pulang ke rumah, bertemu papa - mama - emak - adik. Penyakit lama saya kambuh begitu sampai rumah. Malas ke mana-mana. Lebih enak menghabiskan waktu tidur-tiduran di rumah, hahaha ... males sekali. Saya cukup puas dengan membaca dan menikmati gambar-gambar indah dari setumpuk majalah National Geographic koleksi Papa, sambil bolak-balik ke ruang makan mengambil tempe goreng di lemari. Tidak ada main ke mall, tidak ada ngopi ke Starbuck, yang ada hanya bersantai di rumah. Ngobrol hal-hal yang gak penting dengan keluarga. Menikmati foto-foto lama, saling mencela tentang masa kecil dengan sepupu-sepupu. Bertandang ke om dan tante, ngobrol lagi di sana. Itu ya...

A step to leave a comfort zone

To : Shirley Shir, waktu kamu mutusin berangkat ke Prancis, ada rasa takut gak? Tapi dulu kamu banyak temen2 ya ... From : Shirley Kalo pengalaman saya ketika mutusin berangkat ke Perancis sih ngga ada takut2nya ... malahan seneng banget bisa dapet pengalaman ke luar negeri ... waktu itu bahkan belum tau akan ada temen2 yang barengan berangkat ... nekat khan padahal bahasa Perancis aja saya ngga bisa ... tapi memang waktu itu kayaknya perasaan seneng mengalahkan perasaan takut deh ... Jadi kamu pun jangan takut ... ini khan yang udah kamu tunggu2 selama ini, jangan sia2kan kesempatan ini ... selama ini kamu khan memang cari beasiswa dan ketika dapet jangan malah takut ... udah bosen dengan kerjaan yang sekarang juga khan jadi ini saat yg tepat juga ... Ok ?!! Let's go for it !!! From : Ovik Selamat ya Neng, akhirnya kesampaian juga. Aku iri sama kamu. To : Andro Benernya aku takut From : Andro Takutt ??? Buset ni anak, ngapain juga takut. Berangkat sana! Kalau takut biar aku aja ...

Seneng, Bingung, campur2 ...

Yesterday a big thing happened in my life. After several tries, I finally got a scholarship to continue get master degree in the School of Health and Rehabilitation Science, University of Pittsburgh. My first reaction is “WOW, I make it !!! But that euphoria didn’t last long. I suddenly realize that it is a very important step in my life. My decision whether to take the offer or to reject (stay here) will lead me to very different ways of life. Although I sometimes complain to my friends about how bored I am with my recent jobs : programming, debugging, trouble shooting – which is so exhausted – I know that what I have now is more than I need, even more, I get more than many other people. I have good-stable job, good salary (I am not saying it is great, but really really more than enough for a young single woman), although it is a loan, I also can afford myself to have a little house in Cimanggis – a suburban area south of Jakarta. I should gamble those things for my scholarship. For...

'Dirgahayu' Indonesia

Dua hari setelah perayaan 60 tahun Indonesia merdeka. Lima menit, bis yang saya tunggu belum juga datang. Sepuluh menit, saya semakin tidak sabar, haus dan gerah. Memang belum ada jam sembilan pagi, tapi udara di Sudirman sudah semakin pengap dengan asap knalpot kopaja, bis-bis besar, dan sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran. Damned, kapan saya akan bisa menikmati pagi di Jakarta tanpa harus merusak paru-paru saya dengan polusi udara? Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebotol aqua. Tak lama setelah saya membeli aqua dari ibu-ibu pedagang asongan yang mangkal di sebelah saya, tiba-tiba ibu itu melambai-lambaikan tangan. “Hush-hush, sana, pergi”. “Ada apa, Bu? “ “Itu, ada tramtib”. “Oooh, sering dikejar tramtib Bu?” “Yah, begitulah. Kalau dikejar, kita lari kayak maling. Padahal kita kan nggak jualan buat beli mobil. Kita cuma mau ngumpulin uang buat beli buku.” “Ooh, buat buku anak-anak ya Bu? Berapa anaknya?” “Dua mbak, satu SD, satu SMP. Anak SD aja sekarang bukunya udah ...

Kate Winslet - What If

Tadi malem nonton video musiknya di channel-V ... Here I stand alone With this weight upon my heart And it will not go away In my head I keep on looking back Right back to the start Wondering what it was that made you change Well I tried But I had to draw the line And still this question keeps on spinning in my mind What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know Many roads to take Some to joy Some to heart-ache Anyone can lose their way And if I said that we could turn it back Right back to the start Would you take the chance and make the change Do you think how it would have been sometimes Do you pray that I'd never left your side What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know If only we could turn the hands of time If I could take you back ...
Pernahkah nilai-nilai yang kamu percayai sekarang tiba-tiba kamu pertanyakan validitasnya? Ketika rasa aman hilang, kepercayaan runtuh, dan banyak pertanyaan tak terjawab oleh nilai-nilai itu?