Skip to main content

3 PEREMPUAN

Soerabaja, 1930 an ...

Namaku Keke, tapi semua orang sudah lupa nama itu, seolah Keke sudah mati, yang ada adalah Keiko.Aku adalah seorang geisha tinggal di sebuah Shinju di Soerabaja. Kalian semua tentu mengira aku orang Jepang.
Aku - Keke, si gadis Minahasa - memang telah bermetamorfosa menjadi seorang gadis jepang. Sejak umur 9 tahun aku telah dilatih menjadi seorang geisha yang menyediakan tubuhnya untuk melayani laki2. Bagiku, seks adalah perpaduan antara kepasrahan, seni, pelayanan, dan pekerjaan. Abangku Jantje mengajakku pergi ke Jawa untuk menyekolahkan aku ke Batavia, namun ternyata ia menjual aku dan teman2 ku untuk dijadikan Geisha. Dan inilah aku sekarang, Keiko si Kembang Jepun, kembangnya Shinju di Soerabaja.

- karakter di ambil dari novel Kembang Jepun, Remy Silado -

Yogyakarta, 2004 ...

Teman2 biasa memanggil aku Opi. Sejak kuliah aku senang melakukan berbagai aktivitas, wawasanku banyak,
pergaulanku luas. Akhirnya aku lulus menjadi guru SD, profesi yang kucita2kan sejak kecil. Beberapa tahun
mengabdi, aku merasa butuh tantangan lain, maka aku keluar dan bergabung dengan LSM penyedia pendidikan alternatif bagi orang pinggiran. Tapi aku masih butuh tantangan lain, dan aku mendapatkannya. Awal bulan lalu, aku mendapat response dari sebuah NGO internasional di Swiss. Aku apply ke sana, dan mereka menerima aku. Berbunga2 hatiku, what a new life!!! Passport, ijin kerja, tempat tinggal sudah di tanganku. Tapi kau tahu apa kata ayahku?

"Sekali tidak tetap tidak. Apa yang kamu cari di sana? Pengalaman? Ilmu? Sekolah? Kalau mau sekolah lagi, kenapa harus jauh2 ke sana. Di sini pun kamu bisa meneruskan S2 mu."

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, impianku kandas, justru ketika kesempatan sudah di tangan.

Jakarta, 2004 ...

Meski karirku tidak luar biasa luar biasa, namun pekerjaanku sebagai sekretaris direksi di sebuah BUMN
terkemuka amat cukup bagiku. Mbak Nana, begitu biasanya teman2 memanggil aku. Kata orang2 aku cantik, malah terlalu cantik. Aku cantik, lembut, tubuhku pun sexy. Dengan modal itu, laki2 mana yang tidak takluk denganku. Tapi hanya dia seorang yang aku tunggu. Setahun lebih sudah berlalu, aku hanya menunggu ... tak ada sepatah pernyataan pun keluarku dari mulutku dan mulutnya. Sayangnya martabat seorang wanita yang kupegang erat tidak mengijinkan aku untuk bertanya tentang statusku, apalagi untuk mengungkapkan isi hatiku.

"Ora ilok nek cah wedok nembung sik Nduk ... " demikian ibuku selalu mengajariku untuk menjadi wanita "baik-baik". Pedulikah mereka dengan rasaku? Hatiku yang hancur pilu?

Liat rentang waktunya, satunya awal abad 20, satunya abad 21, tapi nasib cewek tetepppp aja. Menyedihkan :(

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...