Skip to main content

Telling what I want

Inget nggak kamu kalau kamu pernah bilang bahwa aku punya masalah untuk menyampaikan apa yang aku mau, apa lagi kalau aku harus mengatakan tidak?

Apa kamu inget juga bahwa jauuh sebelum kamu mengatakan itu, aku pernah cerita ke kamu tentang betapa dekatnya sepupuku, dik Ilud, sama mamaku. Mereka doyan nggosip dan ngrumpi bersama. Mamaku betah telpon interlokal bermenit2 sama keponakannya, sementara kalo sama aku cuma standar doang.

Waktu itu aku bilang ke kamu, aku emang nggak pernah cerita2 dan curhat ke mamaku, padahal sepupu2 ku dan teman2ku bisa cerita2 dan bercanda dengan mamaku. Waktu itu sambil ketawa2 kamu bilang,

"Berarti masalahnya ada di kamu Mit, bukan di nyokap kamu ... hehehe ... "

Iya, emang aku susaah banget buat ngomong sama nyokapku, semua aku pendam sendiri ... sampai panas di kepala dan perih di hati pun ... aku gak pernah ngomong ke nyokap. Benernya, aku cuma nggak pengen nyokap liat aku nangis ...

Tapi sore ini, aku melakukannya. Aku cerita ke nyokapku tentang aku, tentang apa yang menggangguku ... sekaligus menjawab pertanyaan yang timbul kenapa aku tiba2 pulang ke Jogja. It was hard at the first time, but first step is always hard, right? Aku melakukannya, bukan semata2 karena aku udah gak kuat lagi menanggung bebanku sendirian, tapi karena aku ingin berubah. Aku ingin lebih terbuka, aku ingin lebih komunikatif ke orang. Aku nggak ingin menelan semua masalah, kemarahan, atau emosiku sendirian seperti yang kamu bilang tentang aku ...

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...