Skip to main content

ketemuan jaman dulu ... ketemuan ala sekarang ...

ketemuan jaman dulu ... ketemuan ala sekarang ...

Barusan aku dapat email dari teman lamaku. Sejak lulus kuliah dan dia mengadu nasib di negri sebrang *jaman dulu banget yak bahasanya :p*, kami nyaris gak pernah ketemu. Terus tadi dia dengan entengnya bilang gini di email :

*bahasa jawa mode on*
"Nek tak pikir-pikir aku urik juga ya... nek pengin ngerti kabarmu kari ndelok nggon blog-spot-mu, dadine terus ora tahu bertukar kabar karo kowe :p "

wah, urik tenan ... curang bener bapak ini :p ... enak aja dia begitu, tapi gak update2 cerita ke aku, baru deh satu semester sekali dia inget punya temen yang namanya mita. hahaha ...

Anyway, percakapanku dengan teman lamaku ini mengingatkan aku, betapa teknologi udah mengubah gaya hidup kita ya. Sekarang, dalam hitungan detik kita bisa kirim sms ke teman kita yang ada di belahan dunia yang lain. Inget gak masa-masa kuliah dulu, gak punya handphone karena masih kere, berkomunikasi lebih susah dari sekarang.

Masih teman yang sama, satu dua tahun yang lalu kami pernah janjian ketemuan. Kalau dulu janjian ketemuan tuh ya di himpunan, di kampus, atau di kost-kostan. Nah, it's all changed now. Kami ketemuan di airport, karena ya itu yang paling feasible. Ngobrol bentar, kemudian dia kembali ke negri sebrang itu, dan aku mudik ke Jogja. Atau ketika nyokapku ke Jakarta, kadang2 kami janjian ketemu di Gambir. Praktis, daripada si mama harus susah2 ke kostku.

Hmmm, dan berkat teknologi pula, aku bisa berbagi cerita dengan mudahnya :)

Anyway, aku mau pulang dulu. Pekerjaan sudah cukup membuat sumpek pikiranku hari ini. Mandi sore, makan malam, baca buku, dan nonton film, semoga bisa jadi obat stress yang efektif. Melupakan semua masalah untuk sejenak ...

Selamat sore semuanya ... pulanglah dengan senyum :)

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...