Skip to main content

Reading Habit

Waktu aku masih kecil banget - SD kalau gak salah ingat - setiap kali liburan, ada jatah dari papa mama buat beli buku cerita. Dulu aku suka banget koleksi seri Tini .... hehehe ... cewek banget ya. Buku ceritanya bagus karena banyak gambarnya :D hahaha. Waktu itu papa pernah nanya, "Kamu nggak pengen baca buku-buku Enyd Blyton?", waktu itu dengan begonya aku jawab enggak :p ... gara2 nggak banyak gambarnya. Kacau pisan ya ... hahaha.

Tapi lama kelamaan, bosen dong dengan buku cerita bergambar. Mulailah aku melahap Enyd Blyton, mulai dari Lima Sekawan sampai Pasukan Mau Tahu. Sampai sekarang sebagian koleksi masa kecilku masih ada di rumah jogja :). Tapi sayangnya, beranjak remaja berarti juga berkurangnya kemewahan untuk beli buku cerita. Enggak ada lagi jatah-jatahan di masa liburan, aku harus nabung dari uang saku mingguan untuk membeli buku cerita ... hiks hiks hiks ...

Di samping buku2 cerita, si Mita kecil demen banget baca apa aja yang ada. Koran, semua majalah yang ada di rumah. Sampai2 aku pernah bertengkar hebat sama Om ku gara2nya aku lagi di rumah nenek, baca koran, terus korannya direbut sama Om Ipung, padahal aku duluan yang baca hiks hiks hiks ... Alasannya, he is grown up. So what gitu lho ??!!! Kalau di rumah, siapa yang baca duluan yang punya hak lebih atas koran itu, no matter itu papa atau adikku. Aku juga sering membongkar gudang di belakang kamar tidur Mbah Kakung. Di sana ada banyak koran dan majalah lama. Serasa menemukan harta karun di sana :) Salah satu hasil perburuan yang aku ingat sampai sekarang adalah novel kuno Oliver Twist, kayaknya sih koleksi bokapku jaman mudanya.

Thanks buat my beloved papa :) - without him, mungkin aku gak punya hobi baca kayak sekarang.

Beranjak gede, pindah ke Bandung, aku mulai jarang baca buku. Enggan juga baca buku-buku sastra. Aku baca Siti Nurbaya hanya sebagai kewajiban bikin resensi untuk Pelajaran Bahasa Indonesia saja. Selebihnya, menurutku membosankan!! Untungnya waktu kuliah teman2ku cukup kondusif buat diskusi, baca buku, dst ... jadi kemalasanku agak tertolong karena mau gak mau aku harus baca biar tetep update dengan mereka, hahaha. Untungnya lagi, Dewi, tetangga sebelah kamar, koleksinya buanyaaakkkk, sedikit banyak mempengaruhi selera membacaku, dan sekaligus penghematan kantongku. Hahaha ...

Barulah setelah kerja, bener2 aku bisa memuaskan hobiku baca dan beli buku :p, yang kayaknya makin menjadi-jadi belakangan ini. At least aku dah punya uang buat beli buku, dan punya beberapa teman dekat yang hobinya sama. Sedaaapp :)

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...