Skip to main content

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu ...

I fall in love with this novel ... really beautiful ... :)

"Pergilah ke Maha Hati Membawamu" atau judul aslinya "Va dove Ti porta il cuore" sebenarnya bukan novel baru. Novel Italia karya Susanna Tamaro ini pertama kali kukenal sebagai cerita bersambung di Kompas, sekitar setahun yang lalu. Aku sempat membaca sepotong dua potong. Dan kesimpulanku waktu itu ... I don't understand this story. Begitu juga ketika Setio ngirim petikan nya ... masih nggak ngeh juga dengan keindahan cerita ini. Tapi seorang sobatku di Bandung, Dewi, bilang gini ke aku, "Coba deh Mit kamu baca secara lengkap, mungkin kamu nggak menikmatinya karena cuma baca sepenggal doang. " Dan ternyata bener banget, waktu aku baca back covernya kemaren, aku langsung jatuh cinta.

Karena aku nggak terlalu pandai berkata2, maka lebih baik aku menulis cuplikannya, yang ada di sampul belakang buku itu untuk kalian. Siapa tahu kalian jadi tertarik untuk membacanya.

"Dan kelak, di sat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, jangan memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu."

It is so beautiful, isn't it? Tertarik ? Ini aku kutipkan sepenggal pengantar dari sang penerjemah, A. Sudiarja, SJ.

"Kisah ini bercerita tentang Olga yang telah dua bulan ditinggal cucunya ke Amerika. Entah di mana ia berada, Olga tidak tahu. Sebaliknya, sang cucu juga tidak tahu neneknya baru saja terkena serangan jantung dan mungkin tidak akan lama lagi hidupnya. Namun Olga memutuskan tidak akan memanggil cucunya pulang. Sebagai gantinya, ia menulis buku harian - atau lebih tepat "pengakuan" - mengenai kisah hidupnya, masa lalunya, perasaan-perasaannya, cinta, kekecewaan, dan penyesalannya terhadap cucunya. Pendek kata seluruh muatan batin yang disimpannya diungkappkannya kepada sang cucu, dengan harapan bila kelak cucunya pulang dan tidak mendapatinya lagi, sang cucu akan membaca buku hariannya ini dan memahami dirinya".

This posting is especially for my best friend Shirley, who always encourage me to be brave, and for Setio dengan kata2nya ... "Mit, apapun yang elo lakukan, gak ada yang berhak ngelarang. Gue yakin elo bakal ambil yang terbaik". Dan juga untuk sahabat-sahabat lain yang tidak bisa disebutkan satu-persatu ... *Lho, kok kayak kata pengantar di Tugas Akhir ya ... hahaha *

Hiks ... terharu aku :p, love you guys :) !!!

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...