Skip to main content

PULANG

Pagi tadi dengan malas aku bangun dari tidurku, satu-satunya alasan yang membuatku bangun adalah hari ini aku cuti, yes, tidak bekerja, pagi ini aku pulang ke Jogja :) Aku buru-buru berkemas, mengingat kebiasaanku untuk menunda lima menit lagi untuk bangun dari tempat tidur bisa berakibat fatal kali ini. Salah-salah aku tidak jadi pulang hanya karena kebodohan dan kemalasanku semata.

Burung besi melayang di udara, membawaku pulang ke rumah, rumah yang biasa kudeskripsikan sebagai sebuah rumah yang nyaman dengan halaman luas penuh pohon buah-buahan. Bukan kebiasaanku untuk menikmati pemandangan selama penerbangan, terutama karena sudut pandang yang berubah-ubah mengikuti goncangan pesawat cenderung memabukkan aku. Tetapi kali ini aku terpana melihat pemandangan yang ada di bawah sana. Jauh di bawah sana terhampar petak-petak sawah berwarna kehijauan, diselingi dengan rerimbunan pepohonan di sela-selanya. Petak-petaknya seperti sebuah karpet. Nun jauh di selatan sana, terlihat bibir pantai selatan pulau Jawa. Buih putih ombak memecah bibir pantai, sementara laut dan langit bersatu dalam warna biru kehijauan, menghembuskan kedamaian.

Kedamaian, ya, sebuah barang yang langka dan mahal di Jakarta. Atau itu hanya menurut aku sajakah? Jakarta selalu hiruk pikuk, penuh dengan hingar bingar bisnis, perdagangan, dan hiburan. Sebuah kota yang sibuk dan tidak pernah terlelap, meski malam telah larut. Sebuah kota yang begitu memanjakan mereka yang mencintai kesibukan – dan sekaligus membenci kesepian, tak terkecuali diriku. Kota yang sibuk itu baru saja kutinggalkan beberapa saat yang lalu, dan kini aku dalam perjalanan menuju ke kota kelahiranku.

Suara flight attendant membuyarkan lamunanku, yang sudah mengembara entah ke mana. Mengembara ke rasa sakit yang kian susah untuk hilang dan dilepaskan kah? Yang berwujud menjadi makian-makian tak terkatakan yang tak pernah meluncur dari mulutku? Atau mengembara ke nikmatnya pisang keju yang kuhabiskan malam itu bersama sosok yang selalu tertawa hangat dan renyah – dia yang pernah begitu merajai hatiku ? Aku tak tahu, dan tak ada gunanya berandai-andai, dia sudah jadi milik seseorang :) Shortly I will be landing at Jogjakarta. Jogja, here I come. Sugeng rawuh dhateng Ngayogyakarta :)

Comments

Anonymous said…
Hai... boleh kenal gak nih...
Kog critanya mirip ma temen aku yang orang yk juga, aku pernah tinggal di yk jg, sma & kuliah.
Mita said…
boleh, tapi aku nggak tau harus kontak kamu di mana, hehehe

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...