Skip to main content

Pura2 jadi guru

Pernah nggak ngajarin anak kecil - anak SD misalnya - dan gemesss banget gara2 anak itu nggak ngerti2 juga apa yang kamu ajarin :D ? Sabtu pagi kemaren ... sampai ngelus dada aku menghadapi anak2 itu, dalam hati dah ngomel2 "Duuuh, kalian ini, gitu aja nggak ngerti2. Bego banget sih!!! :p" Untungnya cuma dalam hati doang tuh, kalau keceplosan bisa gawat :p hahaha ...

Kemaren Sabtu buat kedua kalinya aku ikut kegiatan temen kantorku, ngajarin anak kecil2 di Rawa Belong, Kelapa Gading *hiks, jauh banget* Dari dulu aku seneng punya aktivitas lain di luar kegiatan rutinku - dan sejak di Jakarta dunia itu seolah ilang. Ya ya ya ... gak usah dibahas lebih lanjut, hehehe ... kalian yang deket ma aku pasti udah ngerti maksudku ... Nah, setelah beberapa kali nyoba ikut kegiatan dan mental :p ... sekarang nyobain lagi, entah bakalan mental atau nggak.

Awalnya teman kantorku cerita bahwa tiap Sabtu pagi dia dan teman2 gerejanya ngajar anak2 pinggiran itu - aku lebih suka pake istilah anak pinggiran, bukan anak jalanan, karena mereka masih sekolah normal kok ... Nah, berhubung aku lagi gak ada aktivitas lain, waktunya feasible (walaupun agak2 menyiksa aku yang suka bangun siang2 kalau hari Sabtu :p) dan aku juga lagi mencari lagi nilai yang dari dulu aku pegang tapi kayaknya sekarang susah buat diwujudkan - bahwa benernya hidup itu gak cuma buat diri sendiridoang kan - maka bergabunglah aku dengan mereka ...

Beda sama ngelesin kayak waktu kuliah, susah banget ngajar anak2 ini. Mereka susaah banget konsentrasi, dan yang lebih parah lagi, basic yang mereka miliki gak kuat. Maksudku gini nih, kalau aku ngajar mereka matematika sosial, kayak jual beli, untung rugi, itu masih lebih mudah, karena mereka menemukan hal tersebut dalam kehidupan mereka sehari2. Aku bisa kasih perumpamaan ke mereka yang (moga2) mudah mereka tangkep. Tapi waktu harus ngajar sesuatu yang tidak familiar buat mereka, misalnya bahasa Inggris, fiuuh, it takes a lot of energy. Lingkungan yang berbahasa Inggris itu bukan dunia mereka, mereka bukan anak2 yang mengkonsumsi film2 kartun berbahasa Inggris, yang orang tuanya well educated sehingga biasa menyelipkan bahasa Inggris dalam percakapan sehari2. Jadi buat mereka, bahasa Inggris itu seperti serangkaian kata2 aneh yang cara ngucapinnya beda dengan tulisannya.

Waktu aku liat buku pelajaran mereka, harusnya mereka udah menguasai tenses at least simple present. Tapi waktu aku coba tanya arti kalimat yang ada di buku pelajaran mereka - ternyata mereka ngerti pun enggak. Wah, gawat, aku harus mulai dari mana nih? Akhirnya aku mulai dari vocabulary, nyuruh mereka baca vocab satu demi satu, lalu artinya apa. Dari situ mulai merangkai kalimat dengan kata2 tersebut, sehingga aku harap mereka bisa ngerti kalimat2 yang ada di buku itu.

Ternyata susah juga!!! Hmmm, dah mulai panas dan gerah nih, mereka nggak ngerti2 juga .... somebody help me !!! Kalaupun mereka bisa merangkai kata, menit berikutnya mereka udah lupa dengan vocab yang barusan aku beri. Ternyata susah ya jadi guru :). Duh, gawat ya ternyata pendidikan dasar kita, yang orangtuanya miskin susah dapet fasilitas dan kesempatan yang memadai, akibatnya gak tambah pinter. Gimana nasib anak2 itu kalo gede ya? Gimana mereka bisa mendapatkan kerjaan yang layak kalau kemampuan mereka pas2an banget gitu?? Ada yang bisa jawab ??? I can not.

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...