Skip to main content

Posts

Showing posts from 2005

Homesick, kangen, and happy new year

This is the last day of year 2005, this is also the first time I spend new year's eve far away from my homeland. Homesick, I am trying to figure out what you're guys doing overthere. Satu tahun yang lalu, aku masih di Jakarta. Tidak terbayang bahwa akhir tahun ini aku akan berada di sebuah kota ribuan kilometer dari Jakarta. Jauh dari orang tua, keluarga, para sahabat, dan kamu - iya, kamu, siapa lagi. Menghabiskan waktu jauh dari orang tua sebenarnya bukan hal baru bagiku, 9 tahun jadi anak kost, it's not a big deal for me to spend new year or even christmas alone. Tapi sekarang, fiuuh, homesick pisan. Sekelebat bayangan menggoda saya, atau saya memang tidak pernah rela untuk menghapuskannya. Saya rindu seseorang. Tapi saya harus menerima kenyataan bahwa dia ada ribuan kilometer jauhnya dari saya, tak terjangkau, tak terjamah. Realistis, saya harus melanjutkan perjalanan saya, begitu pula dia. Apakah jalan kami akan bersilangan suatu hari nanti, sungguh tak terbayangkan. ...

First cooking after 5 years

This is my first cooking after 5 years. Actually I did it when nothing else can be done, hehehe. Ok, coba kita lihat apa yang ada di kulkas: brocoli, daging ayam, jamur, dan tomat. Hmmm, let's try to remember what mama taught me years ago. Tarrraaaa .... not bad lah buat first time cooking setelah lima tahun. Sebenarnya sih niat bikin brocoli saus tiram, tapi kok brocolinya justru jadi tersembunyi di antara ayam dan jamur ya :p ? Rasanya? Enaklah, wong masakan sendiri, ya harus dipuji, hehehe. Sekarang, ada yang mau bantu nyuci piring nggak :p?

1st posting @ Pittsburgh: a 36 hours journey

Kok sepi ya? Celingak-celinguk, nggak ada orang. Oppss, udah jam 12.45, pantes aja sepi :p! Halo semua, senangnya bisa ngeblog lagi :) This is my first posting from a town that will be my home for at least another 2 years. Ya ya ya, saya baru saja bangun dari tidur selama 12 jam lebih, capek boo :) Teman seapartment saya entah sudah menghilang ke mana, dan karena saya belum punya kunci apartment, jadilah saya tidak bisa ke mana-mana. Untung laptopnya nyala, jadilah saya di sini, ngeblog :) Perjalanan Jogja - Pittsburgh termasuk transit dan delay menghabiskan waktu 36 jam lebih, duh duh duh capeknya. (Halo kamu, sudah balik ke Jakarta? iya, itu jawabannya, ternyata bukan 16 jam seperti yang aku bilang :)) Tidak ada sesuatu yang menarik selama 36 jam itu (Eits, jangan bilang seni mengamatiku kurang ya :)!) Ya sudah, saya cerita tentang perjalanan itu. Sore itu Papa, Mama, n Bu Nanik (baca: tante) mengantar saya ke Adisucipto. Tidak, tidak perlu ditunggu. Cukup di-drop di lobi, sedikit ...

MENUNGGUMU (Peterpan - Chrisye)

Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa Yang mengalun indah mengisi jiwa Merindukan kisah kita berdua Yang tak pernah bisa akan terlupa Bila rindu ini masih milikmu Kuhadirkan sebuah tanya untukmu Harus berapa lama aku menunggumu Aku menunggumu Di dalam masa indah saat bersamamu Yang tak pernah bisa akan terlupa Pandangan matanya menghancurkan jiwa Dengan segenap cinta aku bertanya Aku menunggumu Dalam hati ku menunggu Dalam hati ku menunggu Aku… Dalam lelah ku menunggu Dalam letih ku menunggu Aku… Masih menunggu Bila rindu ini masih milikmu Kuhadirkan sebuah… Harus berapa lama, harus berapa lama ku menunggumu, aku menunggumu Aku menunggu…aku menunggumu

Halaman yang teduh ...

Aku pernah bercerita kepadamu tentang sebuah rumah dengan beranda yang teduh. Halamannya ditumbuhi pohon buah-buahan yang rindang. Pagi ini aku terbangun dan bergegas ke beranda itu, dan disambut sinar matahari berpendar-pendar di sela-sela dedaunan. Beberapa butir mangga jatuh semalam, pasti manis rasanya. Mungkin aku bisa mengupas satu untukmu . Kuceritakan juga tentang lemari buku besar berwarna biru muda. Lengkap dengan kaca yang melindungi buku-buku kesayangan kita dari debu. Lihat, lihat! Betapa menyenangkannya menata koleksi buku kita di lemari itu. Paulo Coelho, Pramoedya, sampai Eragon dan Harry Potter, semua bisa ditata rapi di sana. Halaman rindang dengan serambi yang teduh masih menanti …

5 tahun 14 hari ...

1 Desember 2000. Hari pertama masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 8.00 waktu saya tiba di Datindo. Suasana masih sepi, Ibeth, resepsionis kantor menyuruh saya menunggu. Satu menit, dua menit, suasana masih sepi. Orang-orang mulai berdatangan di menit ketigapuluh. Ternyata saya kepagian, jam kerja dimulai pukul 8.30 :) Tak lama kemudian Lucy, manager saya sampai saat ini datang. Saya masih ingat senyum dan sapa riangnya, "Hei, aku lupa kasih tau kamu ya kalau jam kerja mulai dari jam 8.30?". Hahaha ... Lalu Lucy mengenalkan saya dengan seisi kantor. Hany, teman sekelas saya waktu kuliah, adalah satu-satunya orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Masih ada nama-nama lama yang sekarang sudah tidak lagi di Datindo. Ada juga Bu Ina, Bu Hera, Pak Bustamin, dan beberapa nama lain yang sampai sekarang masih setia di kantor ini. Saya, fresh graduate berusia 22 tahun, hari itu memulai langkah baru. Praktis saya paling muda di situ. Lugu, tak berpengalaman, dan belum tahu seperti apa d...

Hiks ... I am leaving Setiabudi within days ...

"Huhuhu, Mit sebel deh ... " "Kenapa mbak?" "Tuh si Slamet gosip, waktu tadi aku naik ojek, dia cerita tentang mas depan (baca: mantan pacar yang dulu kost di rumah depan :p)." "Halah, hari gini, ngomongin mas depan. Orangnya dah ke laut berapa taun yang lalu coba? Hahaha ... tukang-tukang ojek itu emang pengamat percintaan yang kurang kerjaan, hehe. Emang dia cerita apaan ?" "Mbak, aku barusan liat mas-nya yang dulu sering njemput itu lho. Sekarang dia di mana mbak? Dah nikah ya mbak?" "Hihihi, crox crox crox. Membuka cerita lama, emang minta ditabok si tukang ojek itu. Sama aja lah mbak, gak ada angin gak ada hujan, si ibu yang jualan ayam lengkuas tiba-tiba nanyain tentang makhluk jelek itu. Walah, cerita 3 tahun yang lalu kok ditanyain lagi sekarang. Terpaksa deh meringis jawabnya, "Dah nikah sama orang lain Bu". "Hihihihi ... orang-orang itu emang lucu dan kurang kerjaan ya Mit" "Iya, santai wae lah. K...

Surat untuk seorang sahabat

Dear sobat, Senang bisa ngobrol dengan kamu kemaren minggu. Sayang aku nggak punya lebih banyak waktu, jadi kita cuma sempat makan ayam goreng dan ngobrol bentar :) Anyway, makasih banyak sore itu kamu bantuin aku wara-wiri ngurus Wawan. Aku jadi inget lagi obrolan kita, tentang angka 30 yang menagihmu untuk memenuhi komitmen, membuat keputusan lebih jelas untuk arah hidupmu selanjutnya. Angka bagus, Yesus juga mulai berkarya umur 30, hahaha, jawabanmu memang sedikit sontoloyo :p Waktu kecil, kalau kita ditanya mau jadi apa, kita bisa dengan lantang menjawabnya: pengen jadi dokter, pengen jadi insinyur, atau pengen jadi manten ... hehehe (yang terakhir itu jawaban ponakanku yang umurnya 3.5 tahun kalau ditanya sama ibunya :D). Tapi sekarang susah sekali ya menjawab akan jadi apa kita 5 tahun ke depan. Apakah masih akan di jalur yang sama? Apakah masih akan bertahan di kota yang sama? Tapi toh kita harus memutuskan. Dan sekarang giliranmu. Benar, dunia nyata memang tidak seidealis nilai...

Stephen R. Covey

Tadi pagi di Metro This Morning ada bincang-bincang dengan Stephen R. Covey, pengarang The 7 Habits of Highly Effective People . Dia sedang berada di Jakarta untuk seminar tentang bukunya yang sukses itu, sekaligus mempromosikan sekuelnya : The Eighth Habit . Saya penasaran dengan sekuelnya itu, apakah sama bagusnya dengan buku pertamanya? Adakah yang sudah baca, sehingga saya bisa mendapat referensi apakah buku itu worth to buy :D? Hehehe ...

Ojo ngawur ...

Eventhough I did enjoy my coming home last weekend, pulang ke Jogja weekend kemaren benar2 melelahkan. Thanks to Perumka, hari gini masih ada aja kereta anjlok :( I got stucked for 3 hours in Gambir, then decided to go home and got a flight instead of train. Mau ngirit malah jadi boros ke mana2 deh, hehehe. Seperti sudah diduga, keputusan saya untuk berangkat ke negeri nun jauh di sana membuat saya banyak menuai pertanyaan dan petuah-petuah sepanjang kepulangan kemaren, hahaha. Mulai dari komentar standar seperti "Ntar cari cowok bule deh di sana" sampai petuah yang agak-agak ajaib dari mama, yang kayaknya kuatir anak sulungnya yang bandel ini berniat gak pulang, hehehe. "Neng kono ojo ngawur, ngati-ati ..." "Heh? Ngawur gimana?" "Ojo ora bali ..." "Lha kalo aku dapet kerjaan di sana mosok gak boleh ?" "Ngawur. Wong duwe omah ya bali ... " Diam, senyap. Mendingan tidak menjawab, hanya menambah kekuatiran mama yang gak perlu. ...

Beruntung

Hp saya bergetar, Kalista, adik sahabat saya: "Mbak, aku keterima kerja di Jkt, weekend ini temenin aku nyari kontrakan buat aku dan Mama ya ..." . Jadilah hari Minggu itu saya menemaninya hunting rumah kontrakan. Setelah berputar-putar tanpa hasil, kami memutuskan pergi ke daerah Senopati untuk cari kost instead of rumah kontrakan, at least untuk satu bulan pertama. Beruntunglah kami, it's just the very right time ketika saya menelpon Mr. Sibuk :), sahabat saya yang pernah kost di daerah itu. Si bapak itu pas sekali mau mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di kost lama, jadilah dia mengantar kami ke sana. Meluncurlah kami ke Senopati, walaupun dengan perasaan sangsi karena kost tersebut terkenal laku keras. Sesampai di sana, ternyata ada kamar kosong. Tepat hari itu ada yang barusan ‘dipaksa pindah’ oleh ibu kost, hehehe. Keberuntungan kedua … “Ck ck ck, anak ini keberuntungannya bagus banget ya. Everything is just at the right time, hehehe”, kata saya. Koment...

Obat buat kepala saya yang nyut-nyutan

Pagi ini saya terbangun dengan kepala pusing dan perasaan konyol sekalee gara-gara kejadian semalam. Gara-gara address book yang hilang, saya baru sadar semalam bahwa beberapa hari ini saya sms-an dengan orang yang salah :p Duh, konyol banget rasanya Pantesan ada sesuatu yang rasanya salah, gaya kalimatnya di sms kok beda banget dengan gaya bicaranya waktu saya ketemu dengan orang itu berbulan-bulan yang lalu. *Ini pun saya cuma samar-samar ingat, hahaha* Saya jadi senyum-senyum sendiri. Kemarin memang banyak kejadian2 yang bikin ketawa sendiri, salah satunya di pagi hari, sebuah pesan masuk ke kotak surat. Ucapan terima kasih dari seorang sahabat. Sekilas saya baca, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan tertawa membacanya, “Mit, sadar gak sih kalau kamu jadi malaikat buat kami selama ini ?” Huahahaha, jangan hiperbola gitu dong! I am far from angelic, tak ada aura memancar di sekitar kepala saya, dan saya lebih cocok digambarkan dengan tanduk di kepala, tertawa nyengi...

Another good book

Kemarin saya diprotes bapak ini karena posting saya yang sentimentil ;), hahaha. Oke deh, daripada bermelodrama, sebenarnya saya berniat memposting tentang buku yang sedang saya baca : Heroic Leadership , by Chris Lowney . Buku ini direkomendasikan oleh seorang teman lama, Sigit. Thanks ya Git! Tapi karena belum selesai baca dan sedang malas membuka notebook untuk sekedar membuat resensi, nanti saja ya!

Sepinya …

Hiruk pikuk perjalanan mulai berakhir. Satu per satu teman dan sahabat seperjalanan saya berbelok, menemukan teman berbagi, kemudian membelok menuju sebuah tempat yang bernama ‘harmoni’, ‘relationship’. Dewi, sahabat saya, akhirnya menemukan pencahariannya. Seorang teman lain yang dulu pernah ada di hati bahkan kini sedang menanti kehadiran anak-anak pertamanya, kembar :) – saya tersenyum membayangkan kelucuan anak-anak itu kelak, sekaligus merasa perih dan sesak di dada. Sepasang teman lama saya tampaknya kembali bersama (I’m happy for you guys :). Salah seorang sahabat terdekat saya menemukan cintanya pada seorang anak SMA (no offense :). Saya? Masih begini-begini saja. Sendiri, betul-betul sendiri. Laki-laki yang saya pernah temui di simpang jalan itu pun entah ke mana. Ada, tapi bahkan untuk menyapanya pun saya tak berani. Saya ingin tahu, tapi tak punya keberanian untuk bertanya, “Sudah kah kamu bertemu perempuan yang kau cintai?” Saya, tenggelam tak berkesudahan, selalu menengok ...

Prinsip dan Dasar

Dah lama tidak posting. Ini ada petikan yang saya temukan di antara dokumen saya. Dulu, beberapa teman sering mengingatkan saya tentang petikan ini, sudah lama sekali rasanya. Saya tulis saja di sini, supaya saya kembali ingat ... PRINSIP DAN DASAR • Manusia diciptakan untuk memuji, menghormat, dan mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan demikian menjadi selamat. • Segala sesuatu yang lain di atas bumi diciptakan untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan itu. • Jadi, manusia harus memakai segala ciptaan sejauh menolongnya dalam mencapai tujuan itu, dan harus membuang segala ciptaan sejauh menghalanginya dalam mencapai tujuan itu. • Maka kita harus aktif berusaha untuk menjadikan diri kita bersikap lepas babas terhadap segala ciptaan, sejauh halnya terletak dalam kebebasan kita, dan sejauh tidak terlarang. Konsekuensinya adalah sejauh tergantung dari kita, kita tidak lebih menginginkan dan lebih memilih : kesehatan daripada sakit, kekayaan daripada kemiskinan, kehormatan daripada kehin...

Hidup makin susah di Jakarta

Keluar dari halte busway siang itu, saya disambut kesemrawutan lalu lintas di sekitar Stasiun Kota. Kalian tentu bisa membayangkan suasana yang terjadi tiap hari tersebut. Angkot-angkot yang ngetem, manusia yang lalu lalang, suara-suara klakson mobil yang saling berteriak, dan panas terik matahari. Menggambarkannya saja membuat saya berkeringat dan kehausan, hahaha. Cepat-cepat saya menyeberang dan masuk ke salah satu angkot. Seorang bule tiba-tiba menyeberang ke segitiga di tengah jalan yang ramai itu, mengeluarkan kameranya, dan membidik kesemrawutan tersebut sebagai objeknya. Saya sibuk mengira-ngira apa yang ada di pikirannya. Objek apa yang menarik perhatiannya, kesemrawutan ini kah? Mungkin ketika orang itu pulang ke negaranya, dia akan menunjukkan foto itu ke teman-temannya dan berkata : “Lihat, ini kesemrawutan di sebuah negara dunia ketiga, Indonesia. Negara yang katanya penghasil minyak bumi, tapi justru sedang terpukul perekonomiannya karena kenaikan harga minyak dunia. Nega...

Emosi-emosi yang membahagiakan

Beberapa hari ini saya banyak dikelilingi oleh emosi-emosi yang membahagiakan dari orang-orang di sekeliling saya. Walaupun bisa dikatakan tak ada yang berhubungan langsung dengan saya, kebahagiaan itu menular, menghinggapi diri saya :) Dimulai dengan kejutan kecil yang saya dapatkan dari sahabat saya (lihat posting saya sebelumnya ;), kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus bermunculan pada diri orang-orang yang saya sayangi. Tebak apa yang membuat saya tertular berbahagia ? Karena mereka menyertakan diri saya dalam kebahagiaan itu. Kemanusiaan saya, tak bisa saya pungkiri, membuat saya pun kadang ingin diperhatikan, disayangi, dan merasa dibutuhkan. Sangat manusiawi bukan? Seorang teman menuturkan kebahagiaan yang dirasakannya, ketika ia mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa berbahagia karena ternyata orang-orang itu masih mengingat dirinya. Memang betul apa yang dikatakannya, tapi sudah saya katakan, kebahagiaan itu seperti virus yang cepat me...

My best friend's lifetime decision

Kemaren siang HP saya tiba2 berbunyi, sebuah pesan masuk: “I am getting married next year. Awal tahun depan keluarga kami berkenalan secara resmi. Minggu kemarin kami bertemu dengan orang tuaku dan orang tuanya. Tahun depan aku pindah ke Jogja mengikuti suamiku”. Heh, it’s like a dejavu. Baru sehari sebelumnya saya blogwalking ke salah satu blog favorit saya *as a silent reader :) *, ceritanya tentang seorang teman yang tiba-tiba memutuskan untuk menikah karena ingin sebuah kehidupan yang simpel dan indah seperti di fairy tale, tiba-tiba saja hal yang sama terjadi dalam kehidupan sahabat saya. “Heh, what ??!! “ cuma itu yang bisa saya tulis dalam reply kepada nya. Buru-buru saya mengkoreksinya, jemari saya menekan angka – angka itu. 0817xxx … dialing … “Halo, eh Mit, barusan aku terima sms mu, baru aku mau balas, kamu sudah telpon.” “Hei, Non, are you serious?” “Iya Mit, I am serious … I know that it is shocking, yes, it shocks everybody …” “Aku ingat beberapa minggu yang lalu kamu sm...

Bali bombing II - Belasungkawa

Sekali lagi orang-orang gila itu meledakkan bom di Bali, dan kembali lagi orang-orang yang tidak tahu menahu menjadi korbannya. Seorang teman, tadi memasang status ini di YM nya : “Terlalu sedikit kesadaran, terlalu sedikit cinta, terlalu sedikit kebahagiaan, hanya karena terlalu banyak pembicaraan mengenai Tuhan.” Betul yang dikatakannya. Jika ada yang mengatakan bahwa agama membawa orang kepada kebajikan, saya akan bertanya, mana buktinya? Mungkin sekarang Tuhan sedang menangis melihat nama-Nya disalahgunakan.

Ten things I desperately want right now:

Dapat visa US Sepotong cheese cake, ditemani secangkir es cappucinno :) Ketemuan dengan sahabat-sahabat lama, tapi tidak lagi di Jakarta. US or France will do hahaha. Punya kesabaran yang tak terbatas. Honda Jazz Menyelesaikan baca biografinya John Nash – “The Beautiful Mind” – Gak selesai-selesai euy… Vatican and Lourdes with the whole family, ngimpi kali ye :p! Lemari buku yang besar, berwarna biru muda, lengkap dengan kaca, supaya buku-buku di dalamnya tidak kotor dan rusak. Perut rata tanpa susah-susah sit-up, huehehe. The last one, I want to sleep …. Zzzz zzzz zzz …

Sudah cukup

Sudah cukup, saya tidak mau bercengeng-cengeng lagi. Sahabat saya tertawa mendengarnya dan berkata, “Yakin Mit ? Bukannya sudah berkali-kali bilang begitu ?“ Hahaha, memang benar kata-katanya, sudah berkali-kali saya berkata seperti itu dan selalu saja gagal. Sekarang saya mencobanya sekali lagi ;) Berat sekali waktu kemarin saya berkata “TIDAK” untuk sebuah permintaan kecilnya. Tetapi jika saya tidak melakukannya, selamanya dia akan menganggap bahwa saya selalu ada, taken for granted. Saya tidak bisa lagi selalu berkata “OK”, “YA”, untuk permintaannya, sementara ia sering berkata “TIDAK” kepada saya, bahkan di saat saya sangat memerlukan kehadirannya. Dia selalu berkata bahwa dia tidak percaya pada pertemanan. Baginya pertemanan hanya merupakan manifestasi kebutuhan dan kepentingan dua orang individu. Ketika dua individu bertemu, kemudian ternyata mereka punya kesamaan kepentingan, dan mereka bisa saling melengkapi kebutuhan mereka, maka timbullah pertemanan, persahabatan, atau cinta....

Gambaran itu jadi kabur

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah tante saya. Ia punya anak laki-laki yang belum genap satu tahun umurnya. Namanya Karl, seorang anak laki-laki yang lucu – putih, bermata sipit, tapi berambut keriting – perpaduan yang manis hasil peranakan Cina – Jawa, tidak seperti saya yang berat sebelah ;) Om Robert, suami Bu Tari – saya biasa memanggil tante saya dengan panggilan Bu – iseng mencandai saya. “Nggak segera pengen bikin mainan kayak gini Mit :) ?”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Alih-alih ingin menggendong bayi seperti banyak teman sebaya, keinginan yang dulu pernah ada kok seolah menghilang ya. Dulu saya selalu membayangkan, saya akan berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan kecil, bermata belok (seperti mata saya ;), pipi berwarna merah jambu yang tembem dan sehat, berambut pendek ikal, dengan kulit yang lumayan putih, hehehe. Di samping saya berdiri suami saya (wajahnya sih beberapa kali berubah-ubah, tergantung gambaran saat itu, yang menurut saya bakal jadi ...
Hmmm, gara-gara blogwalking ngisi waktu, jadi kangen sama seseorang. Seorang pria cerdas pelahap buku, penyuka puisi dan lagu lama. Unfortunately we are now as closed as a fingertip, as far as two strangers. - Hi there, apa kabar? -

Tes psikiatri

Beberapa hari yang lalu saya membaca pengumuman bahwa saya lolos test psikiatri. Kejadiannya berawal dari beberapa bulan yang lalu, setelah berhasil melewati seleksi awal penerimaan calon pegawai di salah satu institusi pemerintah, saya dipanggil untuk mengikuti test psikiatri. Waduh, ini pengalaman pertama saya ikut test psikiatri. Kayak apa sih test-nya? Selama ini test psikologi yang saya kenal adalah psikotest standard yang biasa diselenggarakan kalau kita melamar pekerjaan. Hiks, ,saya benci psikotest! Apalagi kalau sudah disuruh mengerjakan soal-soal dengan gambar kubus-kubus yang dibolak-balik. Mendingan saya disuruh ngitung soal-soal matematika sebanyak-banyak gambreng! Nah, ternyata test psikiatri jauh berbeda. Buat saya yang males mikir lama-lama, cenderung ngasal dan cuek (kata seorang sahabat, saya jago nembak soal-soal yang jawabannya saya nggak tahu - itu lho, rumus menghitung kancing, hahaha) test psikiatri jauh lebih menyenangkan. Tidak ada kubus-kubus imajiner, tidak a...

Foto pre-wedding

“Eh, si Mite udah pulang kondangan. Gimana kondangannya ?” “Hiks, tadi aku nyampe sana makanannya udah hampir habis. Jadi cuma makan dikit.” “Liat dong souvenirnya …” “Tuh di meja …” “Huahahaha … “ “Lho ?? Kok ketawa ?” “Abis, souvenirnya kalender poto-poto pre-wedding. Temenmu tega deh Mit, kamu disuruh liat tampangnya dia tiap hari selama setaun penuh … “ “Hahaha … bener juga ya, aku harus ngeliat tampang si Mamat setaun penuh. Mungkin dulu dia bercita-cita jadi model, lalu gak kesampaian. Jadi sekarang dia memaksa teman-temannya untuk setaun penuh memajang potonya dia … “ “Sekarang lagi nge-trend ya poto-poto pre-wedding. Dari undangan sampai souvenir, semuanya dihiasin poto pre-wedding” “Ho oh, mending kalo jauhjenik kayak aku ya Mit, lha kalo enggak :p ?” “Hahaha … dasar narcist. Tapi kalo aku married nanti, aku emoh ah majang poto pre-wedding di undangan. Undangan kan pasti dibuang kalo dah gak kepake. Jadi poto kita bakal dibuang-buang sama orang. Kok aku gak tega ya liat potoku...

Bangun

Sambil menyantap sate ayam di Blok S malam itu, saya dan Setio – sahabat saya, berbincang ngalor ngidul tentang business trip – nya seminggu yang lalu ke Manila *thanks buat kaos HRC nya ya :) … * Kami sudah bersahabat sejak awal masa kuliah dulu, tahun 1996 … sudah lama sekali rasanya. Sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan asuransi asing sebagai business analyst, dan dia baru saja mendapat tawaran di perusahaan lain. Obrolan itu membuat saya ingat jatuh bangunnya kami berdua ketika mencari pekerjaan selepas masa kuliah. Dulu sekali, waktu baru saja lulus, kami dan beberapa sahabat yang lain mendapat kesempatan untuk interview di sebuah perusahaan asing untuk ditempatkan di Paris dan Beijing. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya semua lolos, kecuali kami berdua. Tentu saja kami sangat terpukul, sampai-sampai menyempatkan diri bertandang ke sebuah kapel kecil di RS Boromeus untuk berdoa, mungkin lebih tepatnya untuk protes ke Tuhan, padahal Setio bukan penganut Katolik. Waktu i...

Dan saya akan tetap bergulat dengan Tuhan ...

Posting ini terinspirasi dari beberapa blog yang saya kunjungi belakangan... Kemarin iseng-iseng saya berkunjung dari blog satu ke blog lain, mengikuti link-link yang ada di blog-blog itu. Sampai mata saya tertuju ke sini . Baru kali itu saya masuk ke blog tersebut, tapi postingnya langsung 'kena'. Mengapa saya selama ini memandang hidup saya dari satu sisi saja? Seperti mata uang yang punya dua sisi, demikian pula hidup saya. Ada sisi keberhasilan, suka cita, dan kebahagiaan. Di sisi yang lain ada kegagalan dan airmata. Tapi sifat saya yang keras kepala dan tidak pernah puas membuat saya selalu berat sebelah. Mata uang itu tak lagi imbang, keberhasilan dan kebahagiaan yang saya dapatkan tak akan pernah membuat saya puas. Contoh simpel dan sepele adalah scholarship yang saya dapatkan baru-baru ini. Bertahun-tahun saya mencoba mencari beasiswa (saya ingat, beasiswa pertama yang saya coba apply adalah AUSAID thn 2000, waktu saya baru saja lulus), dan tidak ada yang sukses. Sampai...

Di rumah

Aduh ngantuknya, berulang kali saya menguap siang ini, gara2 kereta Taksaka yang terlambat empat jam dari seharusnya *selalu aja cari kambing hitam :D*, sehingga saya baru masuk ke Jakarta tepat pukul delapan pagi. Cepat-cepat cari taksi, pulang ke kost, mandi, dan langsung berangkat ke kantor. Long weekend ini saya habiskan di Jogja. Pulang ke rumah, bertemu papa - mama - emak - adik. Penyakit lama saya kambuh begitu sampai rumah. Malas ke mana-mana. Lebih enak menghabiskan waktu tidur-tiduran di rumah, hahaha ... males sekali. Saya cukup puas dengan membaca dan menikmati gambar-gambar indah dari setumpuk majalah National Geographic koleksi Papa, sambil bolak-balik ke ruang makan mengambil tempe goreng di lemari. Tidak ada main ke mall, tidak ada ngopi ke Starbuck, yang ada hanya bersantai di rumah. Ngobrol hal-hal yang gak penting dengan keluarga. Menikmati foto-foto lama, saling mencela tentang masa kecil dengan sepupu-sepupu. Bertandang ke om dan tante, ngobrol lagi di sana. Itu ya...

A step to leave a comfort zone

To : Shirley Shir, waktu kamu mutusin berangkat ke Prancis, ada rasa takut gak? Tapi dulu kamu banyak temen2 ya ... From : Shirley Kalo pengalaman saya ketika mutusin berangkat ke Perancis sih ngga ada takut2nya ... malahan seneng banget bisa dapet pengalaman ke luar negeri ... waktu itu bahkan belum tau akan ada temen2 yang barengan berangkat ... nekat khan padahal bahasa Perancis aja saya ngga bisa ... tapi memang waktu itu kayaknya perasaan seneng mengalahkan perasaan takut deh ... Jadi kamu pun jangan takut ... ini khan yang udah kamu tunggu2 selama ini, jangan sia2kan kesempatan ini ... selama ini kamu khan memang cari beasiswa dan ketika dapet jangan malah takut ... udah bosen dengan kerjaan yang sekarang juga khan jadi ini saat yg tepat juga ... Ok ?!! Let's go for it !!! From : Ovik Selamat ya Neng, akhirnya kesampaian juga. Aku iri sama kamu. To : Andro Benernya aku takut From : Andro Takutt ??? Buset ni anak, ngapain juga takut. Berangkat sana! Kalau takut biar aku aja ...

Seneng, Bingung, campur2 ...

Yesterday a big thing happened in my life. After several tries, I finally got a scholarship to continue get master degree in the School of Health and Rehabilitation Science, University of Pittsburgh. My first reaction is “WOW, I make it !!! But that euphoria didn’t last long. I suddenly realize that it is a very important step in my life. My decision whether to take the offer or to reject (stay here) will lead me to very different ways of life. Although I sometimes complain to my friends about how bored I am with my recent jobs : programming, debugging, trouble shooting – which is so exhausted – I know that what I have now is more than I need, even more, I get more than many other people. I have good-stable job, good salary (I am not saying it is great, but really really more than enough for a young single woman), although it is a loan, I also can afford myself to have a little house in Cimanggis – a suburban area south of Jakarta. I should gamble those things for my scholarship. For...

'Dirgahayu' Indonesia

Dua hari setelah perayaan 60 tahun Indonesia merdeka. Lima menit, bis yang saya tunggu belum juga datang. Sepuluh menit, saya semakin tidak sabar, haus dan gerah. Memang belum ada jam sembilan pagi, tapi udara di Sudirman sudah semakin pengap dengan asap knalpot kopaja, bis-bis besar, dan sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran. Damned, kapan saya akan bisa menikmati pagi di Jakarta tanpa harus merusak paru-paru saya dengan polusi udara? Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebotol aqua. Tak lama setelah saya membeli aqua dari ibu-ibu pedagang asongan yang mangkal di sebelah saya, tiba-tiba ibu itu melambai-lambaikan tangan. “Hush-hush, sana, pergi”. “Ada apa, Bu? “ “Itu, ada tramtib”. “Oooh, sering dikejar tramtib Bu?” “Yah, begitulah. Kalau dikejar, kita lari kayak maling. Padahal kita kan nggak jualan buat beli mobil. Kita cuma mau ngumpulin uang buat beli buku.” “Ooh, buat buku anak-anak ya Bu? Berapa anaknya?” “Dua mbak, satu SD, satu SMP. Anak SD aja sekarang bukunya udah ...

Kate Winslet - What If

Tadi malem nonton video musiknya di channel-V ... Here I stand alone With this weight upon my heart And it will not go away In my head I keep on looking back Right back to the start Wondering what it was that made you change Well I tried But I had to draw the line And still this question keeps on spinning in my mind What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know Many roads to take Some to joy Some to heart-ache Anyone can lose their way And if I said that we could turn it back Right back to the start Would you take the chance and make the change Do you think how it would have been sometimes Do you pray that I'd never left your side What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know If only we could turn the hands of time If I could take you back ...
Pernahkah nilai-nilai yang kamu percayai sekarang tiba-tiba kamu pertanyakan validitasnya? Ketika rasa aman hilang, kepercayaan runtuh, dan banyak pertanyaan tak terjawab oleh nilai-nilai itu?

Menanti pelangi

Aku menanti kembalinya matahari, kilau cemerlang yang meriangkan hati ... Menyinari buliran air di ujung daun, memahkotai pagi dengan cahayanya ... Aku menunggunya menghalau hujan yang turun membadai ... Berharap pelangi terlukis, langit merona berwarna-warni ... Ya, aku berharap suatu saat gemuruh di hatiku akan berlalu ... Aku berharap untuk terbangun di pagi yang cerah, seperti ceritaku ... Kapankah pagi itu akan datang dalam hidupku ?

Selamat Ulang Tahun 'Nd** ...

Selamat ulang tahun 'Nd**, time really flies, tak terasa ini tahun ke 3 sejak perkenalan kita dulu. Banyak hal berubah, aku dan kamu yang sekarang bukan lagi aku dan kamu yang dulu. Kamu sekarang seorang suami, kepala rumah tangga, mungkin tak lama lagi akan ada yang memanggilmu 'Bapak'. Aku juga bukan aku yang dulu. Aku masih berusaha mencari ke mana jalan akan membawa langkahku, tapi ada banyak hal yang berubah. Kita juga sudah tak mungkin tertawa berdua seperti dulu lagi. Tapi ada hal yang tak berubah. Kamu tetap teman yang baik, yang mau mendengarkan keluh kesahku. Hmmm, I wish you were here, menemaniku dengan secangkir kopi dan sepiring pisang bakar lagi. Mendengar keluh kesahku yang tak berujung tentang 'dia', yang masih saja mengisi hatiku. 'Dia' yang menggantikan sosokmu di hatiku. Setahun yang lalu, akhirnya aku berhasil melupakan 'cerita kita'. Setahun yang lalu, dia menambatkan hatiku. 'Nd**, apa yang harus aku lakukan untuk melupakann...

Di penghujung hari

Malam semakin larut, tapi saya yakin, di luar sana kehidupan masih hiruk pikuk. Jakarta tidak akan pernah tidur, walaupun dia kelelahan menanggung sekian juta orang yang bergantung padanya. Kesibukan kota ini dengan setia menemani saya, dimulai dengan hiruk pikuknya suasana kost di pagi hari : tawa pembantu kost, musik dari kamar sebelah, atau teriakan anak ibu kost - yang membangunkan saya. Lalau datanglah kesibukan di kantor, telpon berdering-dering, email-email yang memerlukan response, dan sejumlah problem dari customer yang harus dihadapi. Dan kemudian senja pun tiba, suasana berganti, tetapi tetap dalam hiruk pikuknya kota yang selalu terjaga. Semua hiruk pikuk itu baru berakhir di penghujung hari, ketika saya meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti saat ini. Yang tersisa adalah kesunyian di penghujung hari, bercampur rasa lelah, penat, dan sedikit pegal-pegal. Dalam kesunyian itu sebuah sosok tiba-tiba berkelebat di benak, menggoda rindu. Membawa saya kembali ke angan tak b...

Good luck!

Pagi ini Deweu, sahabat saya sejak kuliah, pulang ke Bali. Dia adalah salah satu penerima beasiswa Sampoerna tahun ini. Rencananya bulan depan dia akan berangkat untuk melanjutkan sekolah di UCLA. Belakangan ini, dia adalah sahabat yang paling sering menemani saya jalan. Gak heran kalau dia memberi saya gelar 'default'. Default teman jalan, hehehe. Berbeda dengan Setio, sahabat saya yang sangat teratur dan apa2 dipikirin *kayak mikir negara*, teman saya yang satu ini lebih spontan dan gak terlalu pikir panjang untuk hal-hal tertentu. That's why mana kala saya tidak berani cerita tentang kelakuan saya ke Setio - demi menghindari helaan napas panjang, omelan, atau kata-kata 'no comment', Deweu yang menjadi tempat cerita saya. Biasanya dia hanya ketawa-tawa, atau malah menambah bumbu-bumbu ... Hmmm, ada a little bit rasa kehilangan juga. Gak ada teman yang nyamperin ke kost untuk sekedar nyari makan pagi, atau cerita-cerita bentar, sebelum kami masing-masing kembali ...

Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur....

Kemarin saya mendapat email ini dari teman saya, Laras. Bagus dan menyentuh. Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya. Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu, kini k...

Sekolah lagi

Satu keinginan lama yang saya coba wujudkan tahun ini adalah sekolah lagi. Dulu sekali ... (2002 - 2003), saya pernah mencoba mewujudkan mimpi saya ini. Tapi waktu itu tidak berhasil. Admission letter sudah ditangan, tapi apa daya, saya gagal dapat beasiswa. Sekarang saya coba sekali lagi. Berhubung umur sudah tambah tua ;), rasanya ini kesempatan terakhir untuk mencoba sekolah. Now or never. Bermula dari tawaran seorang teman lama beberapa bulan yang lalu untuk bekerja sebagai asisten riset dengan imbalan dibiayai sekolah S2 dan uang saku untuk biaya hidup, maka saya mulai mengurus tetek bengek yang diperlukan. Mulai dari test TOEFL (score saya yang lama sudah expired), cari surat rekomendasi, bikin motivation letter, nego dengan bokap nyokap, dan prentil-prentil yang lain. Sekarang semua sudah beres. Application package sudah dikirim, ijin dari ortu pun sudah keluar. Tinggal menunggu hasil, semoga kali ini saya sukses. Doakan saja ...

Sepotong pagi di kampus

Posting ini sudah ingin saya publish sejak seminggu yang lalu, tapi baru sempat sekarang. Sesampainya di Bandung pagi itu, saya bergegas ke stasiun bagian belakang untuk mencari angkot. Sesaat kemudian saya sudah duduk di angkot ungu Cisitu Tegallega yang dengan setia selama bertahun-tahun mengantar kami – para Cisituers – berangkat dan pulang kuliah. Banyak yang berubah di Bandung. Jalan layang Pasupati membelah daerah Kebon Bibit, membuat wajah daerah ini berubah total dibandingkan 4-5 tahun yang lalu. Menurut seorang teman, kemacetan di pintu keluar jalan layang sangat parah. Arus lalu lintas dan jalur angkot pun sudah berubah beberapa kali. Saya yang dari dulu tidak akrab dengan jalur angkot, makin bingung saja. Tapi untung, rute perjalanan saya ke Bandung tidak pernah aneh-aneh, hanya seputar Dago, dan tentu saja Cisitu :). Tapi ada yang tidak berubah dari kota ini, keramahannya, kesantaiannya, dan mojang- mojangnya yang pandai bersolek. Bahkan, di saat banyak orang mengeluh bah...
Senin - nomat di Setiabudi sama Susan. Selasa - olahraga, trus makan dan ngopi di Cikini bareng ma Deweu. Rabu - lembur, ketemu bentar ma Dik Ilud. Kamis - ke Bandung Jumat - cepat-cepat pulang, dan tidur, capek. Sabtu - bersih-bersih, jalan sama anak-anak kost. Minggu - ngopi lagi, sama adik-adik. Apa yang kamu cari Mita?

Salam perpisahan

Semua kenangan indah tentangmu yang terbingkai dalam jiwaku, Kini akan kulemparkan ke dalam sungai yang begitu dingin ini. Biar dia membunuh asaku, menyirnakan kehangatan yang sejenak pernah kauberikan, Membekukan semua luka yang timbul karenanya. Sehingga segala kesedihanku akan sirna, Segala kenangan tentangmu akan membeku, menjadi batu, hanyut dibawa arus. Ini hampir setahun sejak percakapan kita di gerai kopi larut malam itu. Pikiran jernih yang saling kita ungkapkan malam itu ternyata tak cukup memberikan kekuatan kepada saya untuk tidak mematahkan hati saya sendiri. Setahun berlalu, cinta saya belum terhapus, bahkan bertumbuh. Saya masih menunggu, berharap bahwa waktu dan cinta akan memihak kepada saya. Mungkin sekarang waktunya untuk melupakanmu, setelah setahun penantian yang sia-sia dan menyiksa.

Selamat Ulang Tahun, Wi

Bandung, 1998. Beberapa anak muda sedang berbenah di rumah kosong itu. Mereka hendak menyelenggarakan pertemuan antara beberapa kelompok kaderisasi mahasiswa (waktu itu idealisme masih membara :). Di antara beberapa panitia, saya yang paling yunior. Kami sedang menunggu beberapa peserta yang belum datang, ketika seorang cewek tomboy berambut cepak datang membawa tas ransel besar. Seperti mau turun gunung saja, batin saya waktu itu. Cewek itu mengenalkan diri sebagai wakil dari Mudika Jatinangor. Mendengar Mudika Jatinangor disebut, saya langsung menoleh dari kesibukan beres-beres. “Dewi ya ?”, tebak saya ketika menyapa cewek itu. “Mita ya ?” , balasnya hangat, menyambut saya dengan tawa dan cengirannya. Dalam waktu 5 menit kami seperti dua orang teman lama yang bertemu lagi. Tiba-tiba Sigit menyela pembicaraan hangat itu, “Kalian teman SMA ?” , dan kami berdua terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. Itu perkenalan pertama saya dengan Dewi, seorang sahabat yang kemudian menjadi teman ...

Letupan-letupan kecil

Sore itu saya kembali berdebat tak berujung dengan seorang teman. Perdebatan yang bodoh, tak penting, dan hanya menghabiskan energi kami berdua. Bermula dari komentar ‘sadis’ saya tentang topik rekoleksi yang akan akan diadakan oleh teman saya dan komunitasnya. “Hari giniii, ngomongin relationship, basi“. Ternyata komentar spontan itu memancing emosinya. Kalau saya lihat lagi, memang cukup sadis komentar saya, tapi itu spontan * pembelaan diri * hahaha. Waktu komentar itu keluar dari mulut saya, saya berpikir betapa sering kita membuang-buang waktu untuk berdiskusi dan membahas pentingnya relationship dan cara-cara memaintainnya. Saya katakan membuang-buang waktu karena semua teori dan toolings itu tidak akan berguna kalau kita tidak punya niat untuk mempertahankan hubungan baik atau untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Tapi saya akui saya kurang smooth dalam menyampaikannya, sehingga yang keluar seolah-olah adalah personal attack. Saya baru menyadari bahwa itu sangat mu...

Ditya

Satu weekend lewat lagi. Belakangan waktu rasanya cepat sekali berjalan. Pekerjaan yang bertumpuk, membuat weekend menjadi waktu yang berharga, walaupun sekedar untuk bersantai di kamar kost, atau bercanda bersama sepupu-sepupu di Matraman. Demikian juga weekend ini, kami makan-makan di Matraman. Salah satu yang hadir namanya Ditya, tetangga baik yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ditya, cowok gendut yang baru lulus SMP, bayangkan, beratnya 93 kg, dengan tinggi yang saya yakin hanya 160 sekian ... Masih aleman dan kolokan, tapi tahun ini dia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Gonzaga. Malam itu kami menggodanya, perihal kewajiban-kewajiban seperti mencuci dan menyetrika, dan juga larangan untuk ditengok selama tiga bulan pertama. "Gimana tuh kalau tiga bulan nggak boleh ditengok, kamu nggak kangen sama Mama :p? Ntar kamu nangis ... " *hehehe ... ada empat orang yang tiba2 muncul tanduk di kepalanya* Terus dengan lugunya si Ditya membuat kami ngakak dengan jawabannya,...

Mari, temani saya ...

Sebenarnya saya juga lelah, sama seperti kamu ... Berputar-putar dalam ketidakpastian ... Dalam angan-angan yang tak pernah menjadi nyata ... Tapi saya tidak akan berhenti, saya tidak akan menyerah ... Jadi saya mohon kamu pun jangan menyerah ... Temani saya untuk belajar menerima kenyataan ... Temani juga saya untuk memperjuangkan impian ... Dedicated to : teman mengobrol semalam

Buat apa bersyukur?

Percakapan tadi dengan seorang teman masih terus berputar-putar di kepala. Awalnya karena dia berkata , “Saya sedang mencoba berserah, berpasrah”. Pembicaraan kami berputar ke banyak hal, tentang berdoa, tentang bersyukur, tentang Tuhan yang seolah-olah tidak melakukan campur tangan apa-apa atas carut-marut-suka-duka yang terjadi di dunia ... Jadi buat apa bersyukur? Lalu saya bercerita tentang kesempatan mendapat beasiswa yang tiba-tiba ditawarkan oleh seorang teman kepada saya. It’s like an answer to my pray, setelah bertahun-tahun saya minta supaya diberi kesempatan untuk sekolah lagi, meng-invest-kan banyak hal untuk mencapai keinginan saya itu, kemudian gagal, dan saya sempat menyerah. Ketika saya diam, karena merasa semua permohonan saya tidak dikabulkan. Saya menyerah, karena Tuhan berlaku tidak adil pada saya. Ketika itu, sebuah kesempatan come up, out of nowhere. Lalu dia bertanya, “Tawaran itu datangnya dari temanmu kan?” Yup, Lalu dia bertanya lagi, “Kenapa dia tiba-tiba mem...

Reuni 2 Sahabat

It was not a really reunion, we're still in the same town, say hello each other and meet if we have leasure time. But it's pretty a long time ago when we sit down together in a room called 'kamar kost' ,.... have a long long talk ... just telling each other's story that has not been shared before, talking what we might be ashamed of to tell other friends, it was really releaving. "Gue sekarang tau apa yang begitu memukul elo. Dan damned, gue baru tau sekarang ... ya ampunnn ... elo gak pernah cerita ... " "Hahaha, aku kan udah bilang. Jadi aku pikir kamu dah tau ... " "Kok bisa sih?" "Ya bisa. You know what, sometimes I want to blame someone as the cause of these things ... hehehe " Percakapan malam itu membuat saya kangen sama seseorang. Sungguh kangen. Hmmm, lagi ngapain orang itu sekarang yak :) ?

Mama

Mama. Pagi-pagi suaranya membangunkan saya dari tidur ... "Masih tidur? Udah hampir jam 7. Dasar males, bangun! " "Heeeh, iyaah, masih ngantuuukkk ...." "Tadi malem telpon rumah? Ada apa? " "Iya, nggak ada apa2 kok" [after a few family news update] "Ya udah kalo gak ada apa2. Besok minggu depan mama mau ke Ambon ..." "Hah?? Ambon?? Ngapain ke Ambon???" *jadi agak terbangun dari kesadaran* "Biasaa, dodolan abab (jualan omongan - ngajar, ngasih seminar)" [dalam hati : ngapain pula si mama ke Ambon, di tengah2 keamanan Ambon yang nggak stabil, ah, no comment lah, I'll do the same thing if I were her] "Yo wis ..." Begitulah sosok perempuan yang melahirkan saya. Umur yang sudah lebih dari separuh abad tidak pernah mengurangi energinya. Mama, di usianya yang ke 57, masih aktif mengajar di UGM, masih memberikan seminar ke sana sini. Masih suka tiba-tiba ke Jakarta menghadiri presentasi Riset Unggulan, pergi k...